Jumat, 04 November 2011

Yunita

Seorang gadis cilik yang bernama yunita tumbuh di keluarga yang terpandang dan sederhana. Hari-hari dilewati begitu indah segala keinginannya di penuhui oleh orang tuanya. Sekolahya berjalan dengan lancar. Masa kecilnya begitu bahagia, dia duduk di bangku TK atau yang lebih kerennya Playgrup selama 3 tahun. Semasa kecilnya disaat duduk dibangku TK Yunita selalu memdapatkan berbagai macam piagam penghargaan, mulai dari juara 1 lomba lari karung Pi, juara 1 lomba lari estavet Pi, juara 1 menari, juara 1 menyanyi solo, juara 1 menghafal surah-surah pendek, juara 1 lomba lari kelereng Pi dan juara 1 lomba melukis dan mewarnai. Selama 3 tahun Yunita selalu meraih semuanya. Yunita sangat di senangi oleh teman-temanya dan guru-gurunya.
Hari-hari Yunita begitu indah, dia selalu mendapatkan hadiah dari Ayahnya ketika pulang dari luar kota. Ayahnya sering membawakanya pakainan yang berwarba pink, atau pakain-pakain yang bergambar kartun favorit Yunita. Kehidupan yang begitu indah, dalam 1 Rumah tinggal bersama Kakek, Ayah, Ibu dan pembantunya. Yunita setiap harinya selalu meminta uang kepada Kakenya sebelum berangkat sekolah dan disaat Kakenya menghitung uangnya setiap malam, dia selalu curang saat membantu Kakenya menghitung uang. Saat Yunita membantu menghitung uang Yunita selalu curang saat Kakeknya sedang sibuk dan serius menghitung uang hasil jualanya, Yunita juga sibuk memasukkan uang ke kantong celanya dan terkadang menyelipkan uang tersebut di cela-cela papan, kemudian berpura-pura mau buang air kecil padahal sesungguhnya mengambil uang yang ad di celah-celah papan itu. Kemudian dating kembali dan berpura-pura melanjutkan pekerjaanya, setelah pekerjaannya selesai Yunita meminta upah pada Kakeknya, “Kakek uang tabungku untuk hari ini mana?”  kakekya pun memberikanya uang seperti biasanya Rp 50.000. Yunita terkadang mendapatkan 10.000 – 20.000 dari hasil kejahiliannya.  Betul-betul Yunita sangat jahil. Setiap malamnya Yunita menabung semua uang yang di dapatkan, Yunita sangat rajin menabung dan membantu Kakeknya jualan di pasar saat hari libur. Uang tabungan itu, Yunita ingin sekali membali baju lebaran. Yunita tidak pernah mengharapakan pakain lebaran dari orang tuanya atau keluarnya yang lain. Kelakuan Yunita sebenarnya sudah lama diketahui Kakeknya dan orang tuanya, tapi tak mau menegurnya, karena kakek dan orang tuanya ingin melihat Yunita sampe kapan dia akan bersifat demikian dan kapankah Yunita akan Jujur?. Yunita sangat semangat menabung karena cita-citanya, Yunita ingin menjadi seorang dokter karena melihat keadaan kakeknya yang selalu sakit-sakitan. Yunita berharap agar dapat bersekolah dengan uangnya sendiri dan dapat menyembuhkan penyakit Kakenya. Yunita sangat menyayangi kakeknya, tidurpun Yunita bersama kakeknya, tapi disaat Yunita tidur lelap Yunita pun digendong oleh Ayahnya ke kamarnya. Setelah bangun pagi Yunita selalu menangis karena dia tak melihat Kakenya disampingnya. Akhirnya Yunita dibuatkan kamar oleh Ayahnya disamping kamar Kakeknya.  Yunita senang tidur dengan kakeknya karena, kakeknya selalu menceritakan pengalaman hidupny pada masa kecil dulu.
Setiapp pagi sebelum berangkat kesekolah dan bekerja sudah menjadi tradisi di keluarga Yunita untuk sarapan. Saat sarapan, makan siang, dan makan malam semua anggota kelurga harus ada di meja makan untuk bersama-sama menyantap makan yang sudaj ada. Karena selalu ingin melewatakan hari-harinya bersama keluarga.
Hari-hari berlalu sepeti biasanya. Yunita sedang membantu kakenya menghitung uang, kemudian Yunita langsung memeluk Kakeknya dan menagis di pangkuan Kakeknya, Kakeknya mulanya terkejut melihat Yunita yang selalu ceria tiba-tiba mengais. Kakeknya berkata “kenapa kamu menagis cucuku, siapa yang telah menyakitimu dan membuatmu menangis, atau tubuhmu ada yang sakit biar kakek yang obati ” Yunita “tak ada apa-apa kakek, aku hanya mau jujur kakek bahwa selama ini aku selali nakal saat membantu kakek menghituny uang, ake salau menyelipkan uang dikantongku atau di celah-celah papan dan kemudian aku berpura-pura buang air kecil, sesungguhnya mengambil dan mengamankan uang yang tadi aku sipan kemudian aku simpan dalam celenganku kek, setelah menghitung aku minta uang tabungan lagi sama kakek, aku nakal kakek, maafkan aku yah kakek. Aku berjanji akan bersukap jujur dan membahagian ayah ibu dan kakek”. Kakek “kakek maafkan, rajin belajaryah, lain kali jangan begitu lagi, ini uang untukmu (kakek membari uang Yunita Rp 100.000)”. trimkasih kakek, Yunita sayang kakek.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;