Sabtu, 26 November 2011 0 komentar

TAK SAMPAI.. By Sukma Arifin


TAK SAMPAI..
By Sukma Arifin

Saat itulah terakhir kalinya aku bertemu dengan Rivi dipemakaman, selanjutnya hapenya enggak pernah aktif lagi, dia juga enggak pernah ngasih kabar. Bagaimana keadaan dia sekarang ? Dia pasti semakin tertekan. Padahal aku ingin bertemu dengan Rivi untuk minta maaf soal kemarin. Mungkin dia enggak suka dengan kata kata ku kemarin. Seminggu kemudian aku baru tahu saat Pak Arkham satpam sekolah ngasih aku biola Rivi, pak satpam bilang kalau Rivi sudah pindah seminggu yang lalu. Sejenak aku hanya terdiam “ini kan biolanya rivi kenapa dikasih sama aku ? Mana mungkin biola kesayangannya dikasih sama orang yang selalu buat dia kesel setengah mati” kata ku dalam hati
Dalam hati kecil ku aku tersenyum, ternyata Rivi ngikutin saran ku. “Tapi kenapa kamu enggak ngasih kabar sih Riv? Kenapa kamu langsung pergi ajah ? Apa susahnya sih bilang aku mau pergi ? Atau kamu masih marah sama aku ? Kenapa.. kenapa.. kenapa.. ” beribu ribu pertanyaan yang menghampiri ku. Malam itu aku tidak bisa tidur, bayangan Rivi terus menghantui ku. Aku terus memandang biola pemberian Rivi. Aku merasa sangat kehilangan. Padahal aku baru saja dekat dengan Rivi. Aku kembali meraih selembar kertas yang ada didalam tempat biola itu.

“akhirnya aku putuskan untuk mengikuti kata-katamu, aku titipkan biola ini ke kamu. Jaga biola ini baik baik. Suatu saat aku ingin melihat kamu memainkannya. Tanggal 7 juli nanti aku akan menemuimu setelah itu aku akan kembali lagi di New York. Tunggu aku ditempat biasa. Makasih yah saran mu, berkat kamu aku udah baikan sama papa :)”

Kalimat ini yang membuat ku masih berharap bisa bertemu dengan Rivi lagi , diam diam aku juga mulai menyukai Rivi. “Inikah cinta ?” tanya ku dalam hati. Lama lama memikirkan Rivi membuat ku tidak sadar dan tertidur lelap…
***
10 bulan kemudian, tepatnya 7 juli aku ke taman tempat perjanjian ku dengan Rivi, berharap Rivi mengingat janjinya dan datang ke sini, walaupun pertemuan ku ini hanya sebentar dan akhirnya dia akan kembali lagi ke new york, aku tetap ingin ada Rivi disini, aku selalu berdoa dalam hati bahwa aku masih sempat bilang kalau aku sayang sama dia.
Sudah larut malam, Rivi belum juga datang. Karena jenuh akupun mengambil biola itu dan memainkannya. Aku hanyut dalam suara gesekan biola ini. Tiba tiba disudut taman aku melihat Rivi berdiri memandangku, wajahnya pucat. Walaupun saat itu gelap, tapi aku masih bisa lihat Rivi dengan jelas. Yah aku tau itu Rivi ! aku berjalan kearah Rivi, disana dia hanya terdiam dengan tatapannya yang kosong. Akupun menghampirinya.
“terima kasih udah mau datang…” katanya pelan…
“kenapa baru datang ? dari tadi siang aku nungguin kamu tau Riv” kataku dengan wajah kesal, sekali lagi wajahnya masih tetap pucat. Rivi hanya terdiam membisu menatap ku kosong. Seketika Rivi memegang tangan ku. Aku merasakan sesuatu yang aneh, entah apa itu, tangan Rivi terasa dingin. Ada apa dengan rivi ?
“aku udah enggak ada, aku datang kesini secara utuh bukan sebagai arwah atau roh, tapi bukan berarti aku masih hidup, kamu harus menerima semua ini, karena semua ini sudah takdir. Tuhan ngasih aku waktu mala mini datang menemui kamu, untuk bilang aku sayang kamu, aku rindu kamu, aku mau ketemu sama kamu” lirihnya.
“maksudnya apa ? aku enggak ngerti?” tanya ku pada rivi dengan wajah penuh tanya.
“aku kesini untuk bertemu kamu. Untuk lihat kamu memainkan biola itu. Aku tau biola itu akan terlihat lebih indah dan berharga bila ditangan kamu. Dan akhirnya aku bisa melihat dan merasakan kehebatan biola ini, aku sayang kamu Aurel”
Tiba tiba hening..
Aku menatap rivi yang pucat. “oh tuhan tadi Rivi bilang kalau dia udah enggak ada ? inikah terkahir kalinya aku bertemu orang aku sayangi ?” jerit ku dalam hati. Rivi terus menatap ku, aku juga hanya membisu menatapnya berharap semua ini hanya mimpi. Sunyi, sepi, senyap, hening, hanya ada suara dedaunan yang dihembus angin.
“jadi sekarang kamu mau pergi ? kamu datang ke sini hanya untuk bilang sayang, lalu pergi ninggalain aku begitu ajah ?” tanya ku memecahkan keheningan.
“maaf, seandainya aku bisa katakan ini lebih cepat…” Seketika cahaya putih menyambar rivi..
Gelaaaaaaaaap…

0 komentar

Terengkuh By Sitti Monalisa


Terengkuh
By Sitti Monalisa
     Mirsya dan Arya, itulah nama mereka berdua. Mereka berdua bersekolah di SD yang berbeda. Sebenarnya mereka tidak saling mengenal, tapi karena keusilan teman–teman mereka yang selalu menggoda mereka akhirnya mereka saling mengenal. Awalnya, mereka hanya berteman saja. Satu tahun pun berlalu, mereka telah duduk dibangku SMP. Entah karena apa Arya tiba–tiba menyatakan cinta pada Mirsya, padahal Arya sudah memiliki pacar. Bodohnya lagi, Mirsya menerima Arya padahal Mirsya sudah tau hal itu. Awalnya Mirsya hanya iseng menerima Arya tapi lama-kelamaan Mirsya sangat menyayangi Arya hingga ia tak mau kehilangan Arya. Arya pun memutuskan untuk meninggalkan pacar pertamanya.
     Setlah setahun hubungan mereka berjalan. Disuatu hari mereka jalan berdua, karena kehendak Tuhan Yang Maha Esa mereka akhirnya kecelakaan. Luka Arya tidak parah, tetapi Mirsya di bawa ke UGD karena lukanya parah. Semua orang telah mengira bahwa Mirsya tidak akan selamat. Hari itu sangat dipenuhi air mata. Akhirnya Mirsya pun sadar. Setelah Mirsya sudah agak mendingan, Mirsya ingin segera pulang kerumah. Keesokan harinya Mirsya mendapat kejutan yang tidak ia duga, Mirsya mendapatkan kabar bahwa Arya telah mempunyai pacar selain dia. Mendengar kabar itu, hati Mirsya serasa tercabit-cabit. Mirsya pun segera menelpon Arya untuk membuktikan hal itu, ternyata semua kabar itu benar dan parahnya lagi Arya mengakhiri hubungannya dengan Mirsya demi pacar barunya. Mendengar pernyataan Arya, Mirsya langsung menangis. Ia tidak bisa menahan sakit hatinya. Hatinya serasa diiris sembilu. Mirsya merasa  putus asa untuk hidup. Karena rasa sayang Mirsya begitu besar ke Arya. Dengan mudahnya Mirsya memaafkan Arya.
     Beberapa bulan pun berlalu, sakit hati yang dirasakan Mirsya sedikit demi sedikit telah hilang dari benaknya, walaupun rasa sakit itu bagaikan duri yang telah menyatu bersama lunaknya daging hati Mirsya tapi ia telah mulai melupakan Arya. Kini Mirsya mendapatkan pacar baru yang begitu sayang kepadanya yang bernama Indra. Saat Mirsya mulai bahagia dengan kehidupan barunya, Arya pun kembali kehidupannya sebagai seorang sahabat. Sebulan setelah Mirsya mempunyai pacar, Arya tiba-tiba member tahu Indra bahwa “ia telah berpacaran dengan Mirsya selama 2 bulan”. Mendengar perkataan Arya, Indra pun sangat marah. Tanpa berpikir panjang ia segera member tahu Mirsya hal itu. Mirsya pun kaget mendengar hal itu. Mirsya pun berusaha menjelaskan apa sebenarnya terjadi. Akhirnya, Indra pun percaya. Mirsya masih bingung dan bertanya-tanya mengapa Arya melakukan hal itu. Setelah 3 bulan menjalin hubungan dengan Indra, ia pun mengakhiri hubungannya dengan Indra (pacarnya) dan memutuskan untuk kembali lagi dengan Arya. Setelah menjelang UN Mirsya kembali mengakhiri hubungannya dengan Arya karena alasan ia ingin serius belajar. Arya pun menerima keputusan Mirsya meskipun ia agak kesal dan merasa telah dipermainkan.
     UN pun telah selesai, Arya juga telah mempunyai pacar bernama Siska. Setelah Mirsya mengetahui hal itu, ia juga menerima Farel untuk menjadi pacarnya. Meskipun Mirsya dan Arya telah mempunyai pacar , tapi mereka tetap akrab seperti biasanya. Arya juga selalu cerita tentang hubungannya dengan Siska. Tidak lama kemudian Mirsya kembali lagi mengakhiri hubungannya dengan Farel karena ada kesalahpahaman. Tidak lama setelah Mirsya putus dengan Farel, Arya pun melakukan hal yang sama terhadap Siska. Setelah kejadian itu, Mirsya memutuskan untuk sementara waktu tidak pacaran. Berbeda dengan Arya, ia menjalin hubungan dengan Dhea yang tidak lain adalah sahabat baik Siska sendiri. Tentu saja persahabatan Siska dengan Dhea hancur gara-gara hal itu. Setelah 6 bulan Arya dan Dhea pacaran . tak ada angin tak ada hujan Arya tiba-tiba menelpon Mirsya dan member tahu ia akan mengakhiri hubungannya dengan Dhea asalkan Mirsya mau kembali dengan dia, tentu saja Mirsya menerima Arya kembali.
     Hmm… indahnya hidup kini dirasakan lagi oleh Mirsya, tidak seperti biasanya Mirsya sangat ceria dan semangat dalam menjalani hidup. Arya memang telah menjadi motivasi dan semangat bagi Mirsya. Banyak moment indah yang telah dilalui mereka berdua seperti jalan-jalan, ke pasar, dan belajar bersama. Tentu saja semua itu tidak akan mudah dilupakan oleh Mirsya. Mirsya berharap agar semua itu tidak akan berakhir. Tidak lama kemudian, sahabat Farel ingin menjadi pacar Mirsya. Tentu saj Mirsya menolaknya karena dihati Mirsya hanya ada satu orang orang yaitu Arya. Sebenarnya Mirsya ingin member tahu Arya tentang hal itu, tapi setelah Mirsya memikirkannya dengan matang, alangkah baiknya Mirsya tidak member tahu hal itu. Dengan sangat terpaksa Mirsya menyembunyikan hal itu, itu dilakukan karena Mirsya tidak ingin membuat Arya marah dan merasa dikecewakan (dibohongi).
     3 bulan pun berlalu, akhirnya Arya mengetahui hal itu. Arya sangat kecewa dan sangat marah dengan kelakuan Mirsya. Arya merasa telah dibohongi oleh Mirsya. Saking marahnya, Arya tidak mau lagi mendengar penjelasan Mirsya. Mirsya pun sangat sedih dan berusaha untuk meminta maaf kepada Arya tapi Arya tidak memperdulikannya. Mirsya bingung, apa yang harus Mirsya lakukan agar Arya tidak marah lagi padanya. Mirsya pun terus berusaha, tapi apa yang terjadi? Mirsya hanya mendapatkan makian dari Arya dan memutuskan hubungan mereka . Mendengar perkataan Arya tersebut, Mirsya langsung meneteskan air mata. Hatinya sangat sakit dan ia tak menyangka bahwa orang yang sangat dia sayangi setega itu. Saking sakit hatinya, Mirsya terus menangis dan tidak tidur semalaman. Semua yang dulu terjadi kini kembali lagi terjadi. Tanpa adanya rasa bersalah, Arya mengucapkan hal itu. Apa Arya tidak menyadari kalau Mirsya sangat menyayanginya? Semuanya terjadi begitu saja. Siang hari bagaikan malam, pelangi pun berwarnakan kelam. Apakah ini yang dinamakan patah hati? Itulah sekarang yang dirasakan oleh Mirsya.
     Suatu perkataan yang keluar dari mulut Arya bagaikan janji sacral yang selalu diingat dan tertanam membekas dihati Mirsya yaitu saat Arya berkata “aku tak mau lagi pacaran denganmu dan aku tak lagi menyayangimu”. Perkataan itu sangat menusuk bagi Mirsya. Apa Mirsya salah menyayangi Arya? Apa Mirsya tak layak untuk bersama Arya? Apa Mirsya tak pantas bagi Arya? Apa ini adil bagi Mirsya? Ataukah ini karma untuk Mirsya?
     Suatu hari Mirsya bertemu dengan Arya. Tanpa basa-basi Arya mengatakan kalau ia masih menyayangi Mirsya dan ingin kembali seperti dulu. Arya juga berkata, semua perkataannya yang dulu tidak benar melainkan hanya terbawa emosi tapi Mirsya tetap diam membisu. Arya pun terus meyakinkan Mirsya karena Mirsya tidak tahan lagi melihat muka Arya, ia pun pergi dan berlari meninggalkan Arya. Arya pun mengejarnya. Mirsya terus berlari dan akan menyebrangi jalanan aspal yang panas karena sengat matahari. Seketika tuk pengangkut kapas berjalan dengan kecepatan 100 km/jam dihadapan Mirsya. Mirsya yang sedang galau tak sadar dengan semua yang ada disekitarnya. Arya berlari mendekati Mirsya yang mematung di tengah jalan. Truk semakin mendekat dan Arya berlari memeluk Mirsya.
Hanya sepersekian detik dn semuanya gelap.

0 komentar

Menangis Untuk Ibu By Muhammad Alghani


By Muhammad Alghani
Waktu telah menunjukkan pukul 04.00 PM, Aku terbangun dari tidur malam yang tidak begitu nyenyak. Ibu ku batuk-batuk di ruang tamu yang tak jauh dari kamar tidurku. Batuk tidak berdahak yang berulang-ulang dilakukannya. Batuk yang begitu menyesakkan dadanya dan sangat membisingkan telingaku. Sebenarnya tak ingin aku mendengar suara yang menyita otak dan menggelisahkan itu. Kapan suara kasar itu akan berhenti ku dengar? Menjadi tanya sejenak dibenakku. Namun tetap saja tidak bisa aku elakkan suara itu. Belum lagi nafas Ibu yang bersuara seperti ada peluit di tenggorokannya. Ya, Ibu ku mengidap penyakit Asma sejak kurang lebih 6 bulan belakangan ini. Nafas di tenggorokkan yang terdengar jelas bersamaan mengeluarkan oksigen dari hidung. Sulit baginya saat itu untuk menarik ulur-nafasnya yg telah tersengal-sengal. Ntah kenapa setiap mendengar suara itu aku ingin pergi jauh saja. Tak ingin mendengarkan itu semua dari Ibu. Tak sanggup. Namun Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Bagaimanapun dia tetap Ibu yang sangat aku sayang.
            Terduduk Dia di kursi empuk ruang tamu dengan lampu padam. Benar-benar menggangu sekali nafas Ibu yang tersengal-sengal itu. Disaat sulitnya Dia mengatur nafas, aku dengar Dia menyebut, “Ya Allah.” Mungkin itu wujud rasa sakit yang Ia tahankan di dada demi meminta bantuan dari Tuhan. 04.05 AM
            5 menit aku tak tenang, badan ku gelisah, bolak-balik mengatur, terkadang ingin menutup telinga dengan bantal, namun tak bisa. Ingin tak ingin aku mendengar keluh hati yang keluar dari tarik-ulur nafasnya. Selama lima menit pula Aku dan Ayahku mengabaikan namun menghiraukan Ibu di puncak sakitnya selama ini.
            Aku keluar membuka pintu, segera ku jumpai sosok Ibu yang terduduk lemas di kursi. Menjatuhkan kepalanya kesandaran kursi, duduk tegak dengan kedua tangan di atas lengan kursi, memejamkan mata layaknya orang tidur yang mengigau dan tentu dengan nafas satu-satu. Sungguh tak sanggup melihatnya. Ini ke-2 kalinya aku melihat tubuhnya begitu lemas dan mengantarkannya ke Rumah Sakit terdekat sejak kurang lebih 6 tahun silam.
           Cepat-cepat kami menuju Rumah Sakit di pagi buta dengan menggunakan sepeda motor. Keadaan Ibu lebih lemas dari sebelumnya. Di tambah udara dingin pagi yang membuat Ibu semakin sulit untuk bernafas. Terdengarku Ia mengeluh kedinginan dengan suara yang begitu pelan. Tidak jauh memang jarak RS dari rumahku, paling 400 m. Apalagi dengan menggunakan sepeda motor tapi saat itu seperti gerakan slow-motion bagiku mungkin karena dihantui rasa takut dan khawatir yang dalam.
04.20 AM
            Tiba di UGD, segera ku bopong Ibu ke ruang UGD sambil menuggu perawat datang setelah seorang satpam membukakan pintu yang dikuncinya dari dalam. Bener-bener kasian aku melihat Ibu. Tak tertahankan lagi air mata, namun tak ku biarkan air bening itu menetes begitu saja. Sementara Ibu sedang ditangani oleh perawat yang baru saja datang dengan langkah cepatnya.
04.30 AM
            Sungguh tak tenang. Pikiran terbang ntah kemana-mana. Berdoa dalam hati kepada Sang Khalik agar Ibu segera sehat. Berharap ini untuk terakhir kalinya. Berharap sehat selalu. Sempat juga ku meminta kepada Tuhan untuk tukar posisi antara aku dan Ibu. Berharap keadaan berpindah kepada ku. Biarlah aku yang merasakan sakit yang diderita Ibu.
08.23 AM
             Setelah selesai memberi Ibu sarapan dan obat serta sudah beristirahat beberapa jam, Dokter yang khusus menangani penyakit Asma Ibu pun datang untuk memeriksa kondisinya sejauh ini. Di periksanya detak jantung Ibu dengan stetoskop yang menggantung dilehernya. Ditanyanya sebab kambuhnya. “Semalam Ibu kena hujan dan kecapeaan juga, Dok. Tadi malam nafasnya mulai sesak. Tapi nggak separah subuh tadi.” Aku jawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk Ibu. “Mmmm…. Ibu memang nggak bisa dicuaca dingin dan lembab apalagi kecapean. Memang semalam satu harian cuaca dingin dan hujan. Setelah ini, dengan hitungan detik saja ronsen telah selesai. Namun belum bisa kami ketahui hasilnya seperti apa.
03. 25 PM
             Alhamdulillah, keadaan Ibu sudah membaik. Bicara sudah jelas dan berinteraksi dengan baik, mengatur dan bernafas dengan baik.
Rabu (02/02) ; 05.00 PM
             Ibu sudah sehat seperti biasa. Dan keluar dari Rumah sakit. Aku selalu mendoakn yang terbaik buat Ibu dan keluarga. I Love My Family.


Nama        : Muhammad Algani Rasidi
Kelas         : X alkselerasi
0 komentar

Makna kata “maaf” By muh. Danawir alwi


 Makna kata “maaf”
By muh. Danawir alwi

Keheningan malam lenyap seiring sang fajar yang mulai menyingsing. Kabut tipis yang menyelubungi kota itu perlahan hilang. Kokok ayam terdengar di atas sebuah rumah sederhana,  tempat  seorang anak dan ibunya tinggal, dialah Agus .
Pagi itu,Agus yang seorang siswa SMA Negeri 3 Sengkang, dengan menggunakan sepeda buntut ayahnya dia berangkat ke sekolah, seperti biasanya pada hari Kamis dia lebih awal ke sekolah yang merupakan  salah satu siswa yang membersihkan kelas. Sangat mengherankan memang di zaman yang sudah modern ini, yang rata-rata anak SMA telah menggunakan motor, dia masih memakai sepeda ayahnya yang karatan.
              Setiba di sekolah dia langsung  mengambil sapu dan mulai membersihkan, sambil menanti temannya yang juga bertugas pada hari itu. Di saat bersamaan sesosok wajah yang tiba-tiba saja melewati  lantai yang baru saja dipel olehAgus.
“ hai masih kotor  tuh, kamu ngepel atau apa”. ujar cewek yang bernama Siska itu tanpa rasa bersalah.
Dengan sabarAgus mulai membersihkan kembali lantai yang telah diinjak oleh Siska tadi.
       Berbeda denganAgus, Siska adalah seorang anak yang berpunya, dan sangat membenciAgus karena kemiskinannya. Jam telah menunjukan pukul 07.30 saat bel berbunyi pertanda proses belajar dimulai.
“selamat pagi anak-anak “ sapaan hangat dari ibu hj. Astuti yang merupakan guru mata pelajaran bhs. Indonesia
“Pagi bu” siswa serentak.
“ minggu  lalu ibu memberikan tugas untuk  membuat puisi,  pasti kalian telah  mengerjakaannyakan, sekarang ibu akan memanggil salah satu dari kalian untuk membacakan puisinya ” ujar ibu guru.
              

                   “Siska coba baca puisimu di depan “sambung ibu guru”
                   “a….a….anu bu” Siska gugup
                   “kenapa fin ayo cepat ke depan”  bu guru penasaran
                   “tu….tu…tugasku belum selesai bu”Siska terbatah-batah
                   “apa,  ibukan sudah memberikan waktu selama seminggu, sekarang
                     berdiri di depan sampai mata pelajaran ibu selesai “ bentak ibu
                     guru mulai kesal.
Dengan perasaan sebal Siska harus menerima hukuman dari ibu guru.
                             “Sekarang kamuAgus coba baca puisi kamu di depan”ujar ibu  
                              guru
                             “baik bu” jawabAgus sambil menuju ke depan
Agus yang memang gemar membuat puisi, dengan lantunan-lantunan khas yang dia bawakan, membuat para teman-temannya terpukau kecuali satu orang yang malah makin benci kepadanya yaitu Siska. Sepulang sekolah Siska yang ingin menuntut  balas, dengan bantuan beberapa teman laki-lakinya dari kelas lain dia membocorkan ban sepeda Agus, tak hanya itu di tengah jalan, Agus dikroyok oleh teman-teman suruan Siska, untunglah ada seorang bapak yang melihat kejadian tersebut dan menghentikannya.  Melihat bapak itu datang anak-anak yang mengeroyok Agus segera lari.
“terima kasih pak” ujar Agus sambil berdiri
“iya, apa kamu kenal sama mereka” kata bapak yang penasaran
“tidak pak, saya juga tidak tau kenapa mereka memukul saya” sambung Agus
“lain kali hati-hati ya nak” kata bapak itu sambil meninggalkan Agus.
  Keesokan harinya,Agus yang agak memar pada bagian mukanya, masih berusaha pergi ke sekolah. Saat akan masuk ke kelas, tiba-tiba Siska yang sudah ada di kelas, mendekatiAgus.
 “ gimana, sakit ya dikroyok kemarin” ujar Siska
“apa  kamu yang menyuruh anak-anak itu mengeroyok ku” Agus bertanya
“kalau iya kenapa, itulah akibatnya kalau selalu cari perhatian guru” bentak Siska.
“maksud kamu apa”Tanya Agus bingung.
“alah jangan pura-pura bodoh deh”ujar Siska sambil meninggalkan Agus.
       PerasaanAgus  bercampur aduk antara marah dan sedih, dia masih tak percaya mengapa hal itu bisa terjadi seperti itu, tapi dia juga sadar bahwa dia itu laki-laki tak sepantasnya dia  melawan  seorang cewek. Akhirnya diapun dengan perasaan tabah, menuju ke tempat duduknya.
  Sesaat setelah jam istirahat pak subair memanggilAgus lewat pengeras suara.beberapa saat kemudianAgus tiba di ruangan pak subair.
    “ assalamualaikum pak”agus memberi salam
    “ waalaikumsalam ayo masuk tom”pak subair mempersilahkanAgus masuk
   “ terima kasih pak”balasAgus sambil duduk
   “ begini tom, kamu taukan sebentar lagi kamu akan menghadapi ulangan semester, sedangkan tunggakan kamu masih belum kamu lunasi” pak subair mumbuka pembicaraan
   “ iya saya mengerti pak, tapi saya mohon  beri kami waktu pak, saya janji  saya akan  membayarnya pak, Cuma waktu ini kami tak mempunyai uang pak.agus sambil mengibah
   “ Iya,bapak mengerti kesulitan kamu tom, tapi kita juga mempunyai aturan sekolah yang harus dipatuhi, begini saja nak, bapak kasih waktu sampai 2 minggu nak, untuk melunasi pembayaran kamu. Cuma itu yang bisa saya lakukan nak,sekarang kamu boleh pergi. Ulas pak subair
  “iya terima kasih pak” balasAgus sambil meninggalkan ruangan itu
   Matahari terbenam lebih cepat dari biasanya, sebuah percakapan terdengar dari rumah Agus.
“ bu, pak subair tadi mengingatkan Agus bu, tentang tunggakan Agus selama 4 bulan, yang sampai sekarang belum lunas”Agus yang agak murung
“sampai sekarang ibu belum punya uang, hasil dari menjual sayur di pasar saja cuma cukup untuk kita makan saja, kamu sabar aja ya ibu pasti akan berusaha lebih giat lagi untuk cari uang” ibuAgus mencoba menenangkan anaknya
“agus juga akan membantu ibu mencari uang” ujar Agus
“tidak usah tom, itu tugas ibu, tugas kamu itu belajar agar kelak bisa dapat kerja yang mapan”balas ibu Agus
“tapi bu…..”agus yang agak sedih
“ibu bilang tidak usah nak, kamu belajar aja yang tekun, itu udah buat ibu senang” ibuAgus sambil menuju ke dapur menyiapkan makanan.
  Keesokan harinya, seperti biasa pagi ituAgus sudah siap berangkat ke sekolah. Dengan menggunakan sepedanyaAgus menysuri jalan raya yang masih sepi. Hari itu muka Agus agak murung, dia masih memikirkan tunggakannya yang belum lunas selama 4 bulan. Setiba di sekolah,agus langsung memarkirkan sepedanya tak jauh dari kelasnya. Ketika hendak masuk ke kelas, dia berpapasan dengan Siska
 “eh si miskin udah sampai” ejek Siska
 “sampai kapan kamu mau ngejek aku”agus agak kesal
“ya, sampai kamu ngga miskin”Siska makin mengejek
“aku memang miskin harta, tapi setidaknya aku masih punya hati dan teman yang menyayangiku“ balasAgus sambil meninggalkan Siska
Siska seolah diam seribu bahasa mendengar perkataanAgus tadi, dia tak menyangka kata-kataAgus itu begitu terngiang dalam telinganya. Dia merasa bahwa dia tak lebih kaya dariAgus. Mungkin dia memiliki harta tapi tidak untuk kasih sayang dari orang tuanya apalagi teman. Hal itu masih berlangsung hingga proses pembelajaran dimulai, tanpa sadar Siska meneteskan air mata.
  “ kami kenapa fin” kata ibu astuti yang kebetulan mengajar pada waktu itu
  “ oh, tidak ada apa-apa kok bu” sahut Siska begitu tersadar.
Agus yang melihat Siska menangis merasa bersalah.
“apa mungkin  gara-gara aku membentaknya tadi”ujarAgus dalam hatinya
Sepulang sekolah Siska mencariAgus yang ternyata lebih dulu pulang, ketika di perempatan jalan Siska akhirnya melihatAgus dan ingin mendekatiAgus. Namun tiba-tiba  mobil sedan merah yang melaju kencang dari jalur berlawanan tak sengaja menyerempet motor Siska. Siska yang tak dapat mengendalikan motornya akhirnya menabrak trotoar dan akhirnya tak sadarkan diri. Begitu tersadar dia telah berada di suatu ruangan. Tiba sesosok wajah muncul.
“ kamu sudah sadar nak syukurlah” kata orang itu
“ayah, aku dimana dan apa yang terjadi” ujar Siska yang tampak mengenal orang itu yang tak lain ayahnya
“kamu sekarang berada di rumah sakit nak, tadi kamu terserempet mobil dan tak sadarkan diri, untunglah ada anak ini yang segera membawa kamu ke rumah sakit”. Balas ayah Siska sambil menunjuk seseorang yang ada di sampingnya
“agus”Siska tesentak kaget ketika mengenal orang itu yang ternyataAgus
Siska tak sadar menangis. Saat mengetahui orang yang menolongnya adalahAgus
“ orang yang dulu paling ku benci, selalu ku ejek kini yang menyelamatkan nyawaku, maafin aku ya tom, aku udah banyak salah sama kamu” ujar Siska sambil menahan tangisnya
“ aku juga minta maaf tadi udah bentak kamu, maaf ya” balasAgus
“tidak tom, malah aku berterima kasih, karena hal itu yang membuatku sadar bahwa seseorang tak dinilai dari hartanya tapi dari hatinya, makasih ya tom kamu udah ngajari aku hal yang sangat penting” Siska sambil tersenyum
“iya sama-sama, jadi sekarang kita teman dong”agus sambil menjulurkan tangannya
“teman”Siska sambil tertawa
“karena nakAgus telah menolong anak saya, sebagai tanda terima kasih saya, semua tunggakan kamu biar bapak yang bayar hingga kamu lulus”. Ujar ayah Siska
“Tidak usah pak, saya ikhlas menolong Siska”tolakAgus
“sudahlah nak, bapak sudah tau kalau kamu sangat memerlukannya”balas Ayah Siska
“iya tom terima aja”Siska mendukung perkataan ayahnya
“kalau begitu terima kasih banyak pak”Agus sambil tersenyum

  Hari itu, matahari terbenam begitu cepat, mengawali pertemananAgus dan Siska.
0 komentar

Salahkah Aku (Maria Ulfa)


Salahkah Aku
 (Maria Ulfa)
Hari itu bagitu panas seolah –olah mengambarkan suasana hati Maria,ia duduk di bawah pohon dengan hati yang bergejolak ,saat itu ia menangis tapi tak satupun teman nya yang berani mendekatinya karena Maria terkenal sebagai murid yang begitu nakal sehingga ia begitu di segani oleh teman-teman nya sampai-sampai Maria tidak memiliki teman satupun . ia selalu merasa bahwa ia tidak memerlukan seorang untuk membantunya karena ia mengangap orang-orang di sekitanya hanya akan membuat nya menderita.Dari kecil Maria sudah mengalami kekurangan kasih sayang akibat dari perpisahan ke dua orang tuanya.Bahkan ia mempunyai 2 orang kakak tapi tak satupun yang peduli dengannya.Hanya nenek dan kakeknya yang bagitu menyayangi Maria yang membesarkan nya hingga dewasa. Ia tidak pernah kekurangan dalam hal material karena kakeknya merupakan salah satu orang terkaya di daerah tempat tinggalnya.
ArMmmmMMmm…. titng
Alarm ini engga tau apa kalo gue lagi asiek tidur.Hmmmm ya sudahlah sekarang mandi dan ku ingin keluar mencari suasana yang lebih baik.
Hari ini sama saja dengan hari kemarian ucap Maria dalam hati

Pak siapin mobil yah buat aku
memangnya neng mau kmana?
Engga tau lah ,pokoknya siapin mobil ajah yah
Siap non,ucap pak dede seorang supir dari nenek Maria.

Sesosok wanita tua datang dan mengulas-ulas kepala Maria dan berkata’ nenek itu sayang kamu cu,kamu harus selalu bahagia walau hanya bersama nenek dan kakek mu ,tapi ketahuilah bahwa nenek dan kakek ini sudah tua jadi kamu harus belajar mandiri mulai dari sekarang yah cucu ku sayang .
Nenek ini bicara apa sih ,pokoknya nenek dan kakek harus menemani aku sepanjag hidupQ.balas Maria
Nek aku mau keluar dulu yah abisnya aku udah telat,maria pun mencium tangan dari wanita tua tersebut dan berlari hingga tak Nampak lagi dari kejahuan .

Maria duduk di bawah pohon dan menemukan sebuah pulpen dengan tinta merah ,dan tak lama ketika ia memegang pulpen itu datang lah sesosok wanita cantik,anggun , dan tampak beribawa.
Hyy itu pulpen aku ,tadi aku lupa mengambilnya .ucapnya dengan suara lesuh lembut.
O yahh ini ,ambil ajah balas Maria

Wanita tersebut duduk dan mengobrol dengan Maria ,tak lama kemudian mereka pun menjadi akrab dan baru pertama kali ini Maria tertawa lepas,ia merasa sangat  senang bisa bertemu dengan seorang wanita tersebut yang memiliki nama Dewi kanyangan .
Dewi adalah cucu dari kepala sekolah tempat dimana Maria bersekolah,sehingga Dewi akan bersekolah di sana.Dewi pindah dan tinggal di kota ini karena orang tuanya baru saja bercerai dan Dewi pun tak dapat menerima kenyataan ini sehingga ia pun kabur ke tempat dimana kakeknya berada.
Karena terkenal sebagai anak yang nakal di sekolah,kepala sekolah sekaligus kakek Dewi melarang Dewi untuk dekat dan bergaul dengan Maria karena takut cucunya akan terpengaruh dengan Maria.Namun lama-kelamaan dengan berjalanya waktu dan Maria kini tidak nakal lagi sehingga kakek Dewi pun mengizinkan Dewi untuk berteman dengan Maria.
Hari-hari Maria kini di penuhi dengan senyuman ,wajah yang biasanya kusam berubah menjadi Cerah ini semua karena adanya Dewi yang bisa membuat Maria Berubah.Maria kini menemukan kehidupan yang telah lama ia mimpikan .


2 minggu kemudian
Maria begitu sangat rindu dengan Dewi ,sms telfon Maria tidak pernah di hiraukan dengan Dewy.Ternyata ini semua berawal dari Dewi yang menemukan Diary Maria yang tertinggal di rumah nya dan dengan rasa penasaran yan sangat tinggi ,Dewi pun membaca Deary Maria dan setelah membaca diary tersebut Dewy sangat kaget dan tidak menyangka Maria menulis diarinya dengan tinta merah dan berkata “Teryata aku telah jatuh cinta,dan orang yang telah membuat ku jatuh cinta tersebut adalah sesosok wanita yang bernama Dewi Kayangan, mulanya aku hanya merasa bahagia karena telah menemukan sesosok teman yang begityu baik kepadanya,namun kini aku menyadari bahwa semua ini bukan kerena aku senang bersahabat dengannya,tapi ini adalah rasa sayang dan cinta ku yang amat terdalam kepadanya,aku baru menyadarinya ketika Dewi dekat dengan sesosok pria yang ingin menjadi pacarnya,namun aku melarang Dewi dengan alasan bahwa laki-laki itu tidak pantas dan tidak baik untuk Dewi.dan pada saat itu aku begitu senang,karena Dewi percaya denganku.
Hari-hari berlalu dan raca cinta ku kini tak terbendung lagi,aku ingin Dewi menjadi milikku dan menemaniku sepanjang hayatQ.
0 komentar

Mimpi tentang Rumah (By : Leli Amalia Herianto _Mimpi tentang Rumah By : Leli Amalia Herianto)


Mimpi tentang Rumah
By : Leli Amalia Herianto
KAMI punya rumah di kampung. Tidak besar, tapi cukup menyenangkan. Rumah itu semi permanen. Ayah membangun rumah itu ketika aku kecil. Ibuku yang menimbun bagian dalam rumah itu, dengan tanah merah, sebelum diberi lantai dari semen campur pasir. Tanah itu diambil dari kebun kosong persis di depan bakal rumah kami, yang juga milik salah seorang famili ibu.
Waktu itu ibu tengah hamil adikku. Tetapi ibu tidak peduli. Ia memaksa diri mengangkut tanah untuk menimbun, karena bersemangat untuk punya rumah. Itu dilakukan ibu setiap pagi sampai matahari berada di atas kepala. Aku, yang waktu itu masih kecil, sepulang sekolah ikut membantu ibu. Biasanya aku mengangkut tanah dengan gerobak dan membawa tertatih-tatih. Kalau sudah siang, ibu berhenti dan pulang untuk memasak. Aku juga ikut pulang karena lepas siang aku bersiap- siap untuk mengaji di masjid.
AYAH dan ibu membangun rumah itu boleh dikata dengan semangat. Ayah seorang pegawai kecil di sebuah sekolah dan ibu membantu menambah pendapatan keluarga dengan menanam sayur-sayuran di halaman rumah tempat kami tinggal yang memang cukup luas.
Kalau musim tanam kacang tanah atau semangka, ibu juga ikut serta bertani dengan menyewa sawah orang lain dengan sistem bagi hasil.
Jadi praktis tidak banyak uang yang ditabung ayah dan ibu, kecuali beberapa puluh gram emas yang dikumpulkan bertahun-tahun, ditambah dengan meminjam kiri-kanan, termasuk dari atasan ayah di kantor. Tak ada bantuan dari siapa pun kecuali sebuah dorongan agar kami punya rumah.
Sebelumnya kami memang punya rumah, tapi sebuah gubuk di tanah pemberian orang tua ibuku. Itu sungguh kurang menyenangkan bagi ayah. Sebab tanah itu kerap dipersoalkan oleh saudara ibu yang lain, terutama adiknya, meskipun sebetulnya mereka sudah mendapat bagian masing-masing. Tetapi begitulah orang tak puas: selalu saja lebih indah hal-hal yang belum mereka miliki. Ayah tidak mau repot-repot dengan itu.
Maka ketika ada orang menjual tanah, ayah lalu membeli tanah itu. Ibu pun gembira sekali ketika itu. Apalagi tanah untuk rumah itu letaknya di pinggir jalan kabupaten yang berdebu dan tak beraspal. Jalan selebar tiga meteran itu menghubungkan Kecamatan Pitumpanua dan Luwu, yang berjarak sekitar tujuh atau delapan kilometer itu. Aku suka menempuhnya dengan bersepeda bersama kawan-kawan sebaya.
AKU pernah bertanya: mengapa ibu begitu kuat mengangkat tanah untuk menimbun rumah? Jawaban ibu membikinku haru. "Kita memang harus kuat agar bisa punya rumah. Bagaimanapun kita lebih tenang tinggal di rumah sendiri, rumah yang kita bangun dengan keringat sendiri," kata ibu.
Ibu juga tidak mengajak ayah untuk membantu menimbun bagian dalam rumah. Menurut ibu, ayah juga sama seperti ibu. Hanya beda tempat saja. "Ibu justru membantu ayahmu. Kalau ayah turut mengangkat tanah, kasihan ayahmu terlalu lelah. Ayahmu sudah bekerja pagi sampai lepas siang," ujarnya. "Mengapa tidak diupahin saja sama orang untuk menimbun?"
Pertanyaanku dijawab dengan senyum oleh ibu. "Kalau kita upahin sama orang, kita tidak pernah bisa merasakan bagaimana sulitnya membangun rumah. Padahal itu penting supaya kita tahu benar arti sebuah jerih payah sehingga bisa merawatnya dengan baik. Lagi pula, kita tidak punya uang untuk itu."
Ah ibu, sungguh aku tidak terlalu mengerti kata-kata ibu. Aku pun tidak hendak bertanya lebih lanjut. Aku cuma bisa memahami kata-kata ibu bahwa mereka -ayah dan ibu- bercita-cita punya rumah. Rumah lebih baik. Di tanah sendiri. Lalu aku pun ikut membantu ibu. "Ayo, jangan bicara saja. Bantu ibu," katanya kemudian. Aku mencangkul bongkahan-bongkahan tanah dan memasukkan ke kain tua ibu yang digelar di tanah. Selanjutnya, ibu berjalan tertatih-tatih dengan perutnya makin buncit membawa beban tanah untuk menimbun rumah. Sebetulnya aku ingin libur sekolah beberapa hari agar bisa menemani sekaligus membantu ibu. Tetapi ibu melarangku. Katanya: kamu harus sekolah, biar bisa seperti ayah.
Lalu rumah itu berdiri. Setengah permanen. Rumah kami pertama-tama sangat jelek. Serupa onggokan. Memang, sudah beratap, berlantai, berdinding, dan berpintu. Tapi atapnya belum dicat merah saga, sebagaimana rumah-rumah lain yang beratap seng. Lantainya bukan tegel atau keramik, tetapi cuma beton yang dipernis dengan air semen.
Terus dindingnya masih menyembulkan batu-bata merah, belum diplester sama sekali. Loteng alias plafonnya belum ada. Kalau siang, panas matahari langsung menusuk ubun-ubun. Kalau musim hujan, dinginnya tak ketulungan. Hanya pintunya yang bagus. "Mengapa rumah kita tidak sebagus rumah-rumah di dekat pasar?"
"Rumah kita terbuat dari keringat. Tidak sama dengan rumah-rumah dekat pasar, milik toke-toke dan pejabat kecamatan, yang dibuat dengan uang. Sabar saja, kalau waktu milik kita, Insya Allah, rumah kita lama-lama akan menjadi seperti rumah-rumah dekat pasar itu." Ayah benar. Pelan-pelan rumah kami menjadi bagus. Satu per satu didandani. Atapnya dicat merah saga.
Diplester. Mula-mula bagian depan yang diplester, kali lain kamar tamu, terus merembet sampai kamar ayah, ruang makan, dapur, sampai ke kamarku. Itu dilakukan masing-masing dalam interval waktu berbulan-bulan. Setelah itu diberi loteng atau plafon. Mula-mula loteng bagian kamar tamu, lalu kamar makan, terus kamar ayah, terus loteng dapur, terakhir loteng kamarku. Tidurku pun menjadi tidak panas lagi. Lalu dicat. Semua itu dilakukan satu per satu dengan jeda cukup lama, sampai ayah berhasil mengumpulkan butiran-butiran waktu secukupnya.
RUMAH kami dekat pantai. Kalau malam aku suka duduk di luar, menikmati suara debur ombak. Kadang- kadang bersama ibu sambil menunggu ayah pulang dari pasar. Kadang bersama kakek, ayah ibu. Kakek suka bercerita tentang dongeng-dongeng. Aku mendengarnya sampai larut malam. Aku memang biasa tidur malam.
Kata kakek, rumah kami dekat Palopo. Dari pantai di belakang rumahku, ada sebuah jembatan menghubungkan kampung kami dengan Palopo. Jembatan itu terbuat dari bambu. Karena itu, banyak orang kampung pergi ke Palopo, tinggal dan beranak-pinak di sana. "Mengapa jembatan itu sudah tidak ada? Aku ingin sekali main sore-sore Polopo," tanyaku suatu kali. Kakek segera menyela. "Jembatan itu masih ada. Tetapi tidak bisa dilihat oleh anak kecil. Makanya kamu cepat- cepat besar kalau ingin main soresore ke Polopo. Kamu bisa bersepeda ke sana," ujarnya. "Mengapa jembatan bambu bisa untuk bersepeda?"
"Itulah hebatnya," tanggap kakek. Meski bambu, tetapi kalau kita berjalan di atasnya, serasa berjalan di jalan licin beraspal. Bahkan, ada beberapa mobil yang lewat sana." "Mengapa bisa?" Aku makin tidak mengerti.
Kakek tersenyum sebentar, lalu berujar. "Bisa saja. Sebab, jembatan itu dibuat oleh indatu kita. Orang-orang kita yang hidup beratus-ratus tahun lalu. Mereka membuatnya perlahan-lahan. Dengan semangat berkobar. Mereka menumpahkan seluruh cinta untuknya.
Mereka tidak dibayar. Tetapi mereka senang melakukannya. Mereka makan dari harta Tuhan. Kalau siang, mereka membangun jembatan Kalau malam, mereka memancing atau menjala ikan. Setiap pagi, banyak orang datang ke sana untuk membeli ikan-ikan hasil tangkapan mereka." "Termasuk kakek?" "Ya, termasuk kakek."
Kakek memang seorang pedagang ikan. Kakek bukan cuma menjual ikan di pasar. Juga berjualan sampai ke kecamatan lain dengan mengayuh sepeda kumbang. Sering sekali kakek pulang larut malam. Tertatih-tatih mengayuh sepeda yang tak ada lampunya itu. Kalau bulan tidak terang, kakek memakai lampu senter untuk penerang jalan. Kadang kakek membawa banyak ikan yang tersisa. Lalu misyik -panggilanku untuk nenek- mencuci ikan-ikan itu dan membelahnya, memberi garam dan dijemur untuk dijadikan ikan asin. Itu dilakukan malam itu juga, supaya ikanikan itu tidak keburu busuk. Sering mendapatkan kakek pulang malam, aku kerap bertanya: "Apakah kakek tidak takut hantu? Sebab, kata orang kalau malam banyak hantu."
Kakek tertawa terbahak-bahak mendengar mendengar pertanyaanku. Aku menjadi tak mengerti. Lalu ia menukas: "Hantu itu tak pernah ada. Jalanan aman-aman saja." "Benarkah?" Kakek mengangguk.
Sejak situasi di Bulete makin tidak menyenangkan, ayah dan ibu memutuskan tinggal di Kampung Baru. Kebetulan aku sudah beberapa tahun tinggal dan bekerja di kota ini. Bukan hanya ayah dan ibu, sebagian warga lain, yang punya sanakfamili di luar Bulete, juga ikut mengungsi.
Ingin menentramkan diri, katanya. Pemuda juga begitu, mereka banyak yang pergi merantau. Tetapi, sejak tinggal di kota ini, ayah kerap termenung. Pikirannya selalu tertuju pada rumah. Tak jarang ia marahmarah sendiri dan mengatakan ingin pulang saja ke kampung. Sering pula ayah menyalahkan ibu yang dulu terus mendorong agar mereka segera meninggalkan kampung karena tidak sanggup lagi menghadapi berbagai kejadian yang malang-melintang di depan mata.
Kalau sedang berdebat dengan ibu -sebab ibu lebih berprinsip lebih baik hidup tenang jauh dari kampung daripada hidup was-was dan ketakutan di kampung sendiri- ayah selalu mengatakan: "Kalau Tuhan mau mencabut nyawa kita, di mana saja bisa. Mengapa kita harus takut pada mati." Kalau sudah begitu, ibu tidak akan melayani, dan pergi ke belakang dan menangis, karena merasa terus dipersalahkan oleh ayah. Waktu-waktu yang paling sering terjadi keributan antara ayah dan ibu adalah menjelang habis masa kontrak rumah. Karena pada masa itu ayah harus mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membayar biaya kontrak selanjutnya. Meski punya uang pensiun -ayah pensiunan pegawai negeri golongan IIID- sekitar Rp 1 juta rupiah sebulan, ayah selalu kepayahan setiap akan membayar biaya kontrakan.
Bisa dipahami memang, agak berat hidup di kota ini dengan gaji satu juta rupiah sebulan. Tetapi kalau dipikirpikir, masih beruntung ayah mempunyai pendapatan. Itu ditambah lagi dengan usaha ibu sehari-hari membuat kue untuk ditaruh di warung dekat tempat tinggal. Tidak banyak pemasukan memang, tetapi untuk belanja ikan dan sayur setiap hari tercukupi. Tetapi bagi ayah, ibu selalu dianggap telah mengambil keputusan yang keliru: hijrah dari kampung. Karena itu, ayah merasa selalu harus mengeluarkan uang banyak untuk tempat tinggal dan biaya hidup. "Rumah orang kita perbaiki, rumah sendiri kita biarkan terlantar," kata ayah selalu. Maksud ayah, membayar sekian juta rupiah untuk biaya kontrakan dianggap memperbaiki rumah orang. Kalau itu digunakan untuk merawat rumah sendiri, betapa sudah bagusnya rumah itu. Bukan hanya ibu, aku sendiri kadang juga kena semprot dari ayah. Aku dianggap yang memprovokasi ibu agar hijrah dari kampung dulu. Aku memang beberapa kali mengirim surat kepada ibu agar mempertimbangkan -aku tidak menyuruh- untuk tinggal di Bulete saja. Mulanya ibu agak ragu. Tetapi setelah mengetahui sebagian orang Kampung Baru, yang punya sanak-famili di luar daerah, meninggalkan kampung, ibu jadi terpengaruh juga.
Jadilah ibu kemudian mendesak ayah agar segera berkemas. Ayah menjual sepeda motor kesayangannya, menurut ayah, dengan harga murah. Juga menjual televisi, kulkas, dan perangkat elektronik lain. Semua dengan harga "butuh uang". Kecuali rumah, ayah bersikeras tidak mau menjualnya. "Kalau kita jual, nanti saat Bulete aman dan kita pulang kampung, kita akan tinggal di mana?" tanya ayah. Ibu memang tidak menyuruh agar ayah menjual rumah, karena ibu juga berharap suatu saat bisa kembali pulang kampung dan menghabiskan masa tuanya di sana. Akulah yang menyurati agar ayah dan ibu menjual rumah, setelah mengetahui keputusan mereka untuk hijrah. Aku berpikir praktis saja, daripada rusak, mendingan diuangkan saja. Lagi pula, buat apa lagi ayah dan ibu pulang ke kampung, semua anakanaknya -aku dan seorang adikku- sudah tinggal dan bekerja di Bulete. Mendingan mereka tinggal di Kampung Baru, bisa dekat dengan kami, juga cucu-cucunya, yakni anak-anakku. Tetapi aku tidak memaksa juga. Biarlah ayah dan ibu mengambil keputusannya sendiri.
"Apakah kamu pernah berpikir tentang rumah? Rumah kita di kampung," tanya ayah suatu sore, ketika aku baru saja tiba dari tempat kerja. Aku melihat mata ayah basah dan beberapa tetes air matanya meluncur ke pipinya yang mulai keriput. Baru sekali ini aku melihat ayah menangis. Biasanya kalau teringat rumah, ayah hanya marah-marah dan wajahnya menjadi bersemu merah.
Aku duduk di samping ayah, memandang butiran-butiran hujan yang mulai turun, di tempat tinggal ayah dan ibu, sebuah rumah sederhana yang dikontrak seharga lima juta rupiah setahun itu. Aku betul-betul tersentak dengan cara ayah bertanya, juga suasana hatinya yang terasa begitu galau dan sedih. Ada apa yang terjadi sebenarnya.
Tetapi aku hanya menarik napas dalam- dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ayah. Aku hanya bisa membayangkan dari jauh: sebuah rumah semi permanen, berkamar dua, dan beratap merah saga. Sepi dan sendiri. "Apakah ada kabar dari kampung?" tanyaku kemudian setelah lama terdiam. "Tidak," katanya sambil terisak, lalu mengusap air mata dengan ujung jarinya.
"Itulah masalahnya. Ayah khawatir terjadi apa-apa dengan rumah kita. Tadi malam ayah bermimpi rumah kita sudah roboh. Dan orang-orang satu per satu datang untuk mengambil papan dan kayu untuk dijadikan kayu bakar," kata ayah sangat pelan dengan isak yang tidak bisa ditahan. "Itu kan mimpi. Pada kenyataannya kan tidak."
"Mimpi itu ayah yakin sekali benar. Dan arti mimpi itu bisa banyak. Bisa saja rumah itu digunakan oleh orang lain untuk hal-hal yang tidak kita inginkan. Atau paling tidak rumah itu sudah bocor, kotor, dan mungkin kayu- kayunya mulai lapuk dan catnya sudah terkelupas. Padahal kamu tahu, betapa susahnya kita untuk punya rumah dulu. Kita dulu harus tahan lapar untuk membangunnya."
Sekali lagi aku menarik napas. Betul juga kata ayah. "Bagaimana kalau kita kirim surat kepada paman di kampung menanyakan kondisi rumah?" "Tidak. Ayah terpikir mau pulang sendiri ke Aceh ingin melihat rumah. Kasihan kalau rumah itu jadi rusak," suara ayah.
"Tetapi di kampung belum aman. Kita tunggu saja sampai kondisi benar-benar tenteram," aku memberi pengertian. "Sampai kapan?" Ayah bertanya dengan suara serak. Beberapa tetes air mata kembali meluncur ke pipinya. Aku menggigit bibir, tidak tahu harus berkata apa. "Seharusnya, masa-masa pensiun begini ayah jalani bersama ibumu di kampung sambil merawat rumah," tutur ayah dengan wajah yang makin basah.

0 komentar

MELATI (By Darmaji Asrun)



MELATI
By Darmaji Asrun

Pagi dingin. Kabut menebal dalam aroma sepi yang menyekat. Pohon-pohon menggigil. Bunga kemboja merah itu mulai ngilu dan terpaku pada buaian angin yang menganak-sungai menjadi salju. Apa ini? Wangi. Ada aroma bunga yang buai aku di antara kebekuan pagi. Ada aroma yang begitu kukenal. Ada aroma yang begitu kucintai. Shinta, jangan menangis, Ayah hanya pergi sebentar, kata Ibu pagi itu. Tapi, kutahu, ia tak pernah kembali. Suara-suara gumaman orang mendengung-dengung di telingaku. Suara yang lama-lama mirip doa-doa. Ayat-ayat itu. Tapi, wangi itu kembali, atau bahkan ia tak pernah pergi. Ia memenuhi rongga hidung lalu mengalir dalam kepalaku, membius kesadaranku. Shinta mana? Biarkan, dia di kamar. Dia pasti sangat terpukul. Dia kini sebatang kara. Nanti kalau Shinta sudah besar, Shinta mau jadi apa? Jadi guru, jawabku begitu bersemangat waktu itu. Lalu, Ibu akan memelukku. Begitu hangat. Tidak seperti pagi ini. Tak sedingin ini. Ibu kenapa pucat? Ibu tak apa-apa, Nak. Ibu hanya kurang tidur. Ibu istirahat saja! Biar Shinta yang menjahit baju Bu Titik! Tidak, kamu tidak bisa menjahit. Ibu tidak apa-apa. Wangi itu lagi. Kabut masih menebal di luar, menggantung di atas kaca jendela yang mengembun, sesak dalam dingin. Bunga kemboja merah gugur satu-satu, mungkin batangnya lelah oleh dingin. Ia putus asa. Tirai jendela membeku, hanya terkadang mengayun disibak angin. Sisa hangat bulan masih tertinggal dihelai-helainya yang tipis. Ibu berhati baja walau tubuhnya sangat ringkih. Kaki kurus itu seolah tak mampu menyangga tubuhnya yang walau hanya seringan kapas. Kulit wajah yang keriput, bukan karena usia, tapi karena masa yang terlampau kejam menderanya. Ia masih sangat muda, bagiku. Tak pernah ia mengeluh walau hanya sepenggal kata. Ia selalu tersenyum dan menyanyikan tembang Pangkur atau Durma yang mengalun merdu dalam sungai-sungai di rongga hatiku. Atau mendongeng kisah lampau, seolah-olah matanya yang luas itu seperti benar-benar menyaksikannya di waktu itu. Kisah-kisah itu seperti air bagiku yang selalu sepi, dan kering, lalu Ibu akan menyiraminya dan menidurkanku dengan ciuman hangatnya. Ibu tak pernah mengeluh, setidaknya padaku. Tapi, kutahu, setiap malam-malamnya, ia selalu terjaga, bangkit menyingkap gelap. Aku mendengar kericik air pancuran di halaman belakang. Dalam dingin, ia basahi tubuhnya yang sering ngilu-ngilu itu karena rematik. Tapi, agaknya ia tak pernah perduli. Ia lalu masuk ke bilik, yang kutahu setiap waktu-waktu tertentu, ia juga masuk ke sana, berganti kain yang serba putih, lalu bergumam-gumam sendiri dalam bahasa itu. Bahasa yang kata Ibu, lebih agung dari ribuan puisi. Kalau aku ingin melihat Ibu dalam bilik itu, aku intip dari balik pintu yang sedikit terbuka, Ibu duduk dengan wajah rembulan, tengadah dalam puji-pujian padaNya, pada sesuatu yang kata Ibu, maha tinggi, yang menciptakan alam semesta. Tapi aku tak paham itu apa.

Shinta, kamu sudah besar, sudah waktunya untuk sholat. Kenapa kita harus sholat? Karena itu wujud syukur kita kepada Sang Pencipta. Aku tak pernah mengerti mengapa Ibu harus berterima kasih. Atas apa? Atas air mata itu? Atas penghianatan Ayah? Atas kepergiannya dalam pelukan wanita lain? Atas ejekan dan cemoohan orang-orang yang mengatakan aku anak haram? Apa itu haram? Bukankah itu untuk babi?\ Tapi aku manusia! Jangan begitu, Nak. Ini hanya cobaan. Tuhan yang lebih mengerti yang terbaik untuk kita. Mungkin duka lebih manis, lebih indah dari tawa, jika tawa akan membuat kita melupakan-Nya. Dia tidak pernah tidur, Nak. Dia sedang menguji hamba-hamba-Nya yang beriman. Wangi itu datang lagi. Gumam-gumaman itu belum berhenti. Ibu ingin kembali pada-Nya, setelah apa yang Ibu lakukan di masa lalu. Ibu tak bisa apa-apa. Semua telah terjadi, Ibu hanya bisa melakukan ini, kata Ibu dengan matanya yang sungai dari hulu di gunung yang tinggi. Aku tak pernah mampu menyelaminya, terlalu luas dan dalam, terlalu berliku. Ibu tak ingin engkau seperti Ibu, Nak. Ibu mau kau jadi anak yang sholehah, yang berbakti dan taat kepada-Nya, katanya lagi. Apa pula itu sholehah? Aku juga sekolah. Aku sering mendengarnya, bersama dengan kata-kata yang lain, yang terlampau banyak dan membuat kepalaku berdenyut. Walau Ibu hanya seorang penjahit, ia tak pernah mau berhenti menyekolahkan aku, hingga sekarang, hingga aku menjadi sarjana. Belum, masih pekan depan, dan ia tak akan pernah melihat aku dalam upacara itu. Sepertinya, aku jadi batu. Bukan Ibu yang melakukannya karena ku tahu ia tak akan setega itu. Lagipula, aku sangat menyayanginya, lebih
dari apa pun. Setelah segala apa yang ia alami, pantaskah aku menyakitinya? Entahlah, mungkin orang lain, mungkin Ayah, karena aku pernah memakinya, walau umurku belum genap enam tahun waktu itu. Mungkin juga Tuhan. Entahlah. Tapi, yang jelas, aku telah menjadi batu. Bukan diriku yang sebenarnya karena aku tetap seorang gadis yang periang dan bahkan berprestasi di sekolah. Tapi, aku tak pernah mengenal Tuhan. Lebih tepatnya tidak mau karena Ibu nyaris menyerah selalu berusaha mengajarkan aku, apa yang ia bisa. Tapi, aku tak pernah mau. Bahkan seolah aku tak pernah mendengar apa-apa tentangnya. Wangi itu kembali. Samar-samar dibawa angin yang merintis masuk lewat celah tirai. Wangi yang begitu kukenal.

Ibu suka? Ibu tidak menjawab, hanya mentari hangat terbit dari bibirnya, mengalir ke lengannya yang lalu memelukku hangat. Selamat hari ibu! Bunga melati buat Ibu! Dan Ibu semakin erat memelukku. Ibu sangat suka bunga ini. Kata Ibu, melati itu putih, suci. Seperti ia yang ingin kembali suci. Tapi, ia bilang itu tidak mungkin. Kenapa? tanyaku. Karena ibu adalah lumpur. Ia tak akan menumbuhkan melati, apa lagi menjadi melati. Ia terlalu hina sebagai melati. Tapi, Ibu melati, sahutku. Ibu melati dalam hatiku! Dan mentari itu kembali terbit lewat bibirnya, namun tak pernah ia naik ke langit biru. Wanginya, aku memang mengenalnya. Seperti wangi itu, wangi Ibu, wangi kesayangan Ibu. Tiba-tiba ada resah dalam nadiku, membuncah dalam dadaku. Aku tak mau sendiri. Aku ingin mengejar apa yang selama ini dikejar Ibu dalam kesendiriannya. Aku ingin mencari apa yang dicintainya dalam penantiannya hingga ia sekarang telah berhasil mendapatkannya. Nama itu. Nama itu, aku ingin mencarinya sebagaimana Ibu. Nama itu. Tuhan. Allah. Wangi itu kembali menyeruak dan membongkar keterasinganku. Wangi itu menyeretku dalam bayangan Ibu. Ibu yang begitu kucintai. Ibu yang tadi pagi, sebelum mentari benar-benar terbit dari balik punggung bukit yang berduri, terduduk kaku dalam sujudnya, sujud terakhirnya, sujud pada yang dirindukan dalam keterasingannya, sujud pada Tuhan, sujud pada Allah. Biarkan aku mengenal-Nya, Ibu! Biarkan aku mengenal-Nya! Lalu ku tahu harus bangkit. Karena, Ibu menunggu di luar sana dengan terbaring, serta mentari di bibirnya yang tak pernah terbenam, kebahagiaannya berjumpa Kekasih. Ibu menungguku. Dan aku harus bergegas. Sebelum doa-doa itu usai, lagu dan puisi yang dicintai Ibu, yang dibaca Ibu dalam malam-malamnya. Sebelum mentari beranjak pergi. Karena, Ibu menungguku, untuk mengantar kepergiannya. Aku membuka pintu, dan wangi itu lalu menyeruak. Wangi melati.

0 komentar

KEYAKINAN ADALAH KUNCI KESUKSESAN (By Bintang Dwi Putra)


KEYAKINAN ADALAH KUNCI KESUKSESAN
By Bintang Dwi Putra          
              Pada suatu ketika ada kabar bahwa ada pertandingan MATEMATIKA di UNHAS(matematic’s events) . Pada pertandingan matematic's events di UNHAS dia tidak terpilih mewakili sekolah karena alasan yang tidak dia ketahui dan guru hanya langsung menunjuk teman Bintang yaitu akmal , vega , ilham , dan miftah . bintang berkata dalam hatinya “itu sangat tidak adil karena katanya kami tidak di seleksi dan dia yakin bahwa yang jadi perwakilan itu tidak layak untuk di jadikan pewakilan dan yang layak itu dia” .Diapun akhirnya nekat masuk lomba itu membawakan nama sekolah dengan biaya pribadi .
              Dia nekat naik ke makassar dan ingin ikut lomba itu karena dia yakin saya lebih hebat dari pada orang yang jadi perwakilan sekolah itu(akmal , vega , ilham , dan miftah) . Walaupun awalnya di larang oleh keluarganya karena alasan dia bukan perwakilan sekolah . Ibunya berkata “ kamu tidak usah pergi nak karena kamu bukan perwakilan sekolah” Bintang berkata “ saya yakin mereka tidak lebih baik dari saya” anak itu membujuk keluarganya sambil menangis dan anak itu berkata lagi “kalau di tidak berhasil mengalahkan ke empat orang itu maka dia tidak akan pernah mau ikut lomba lagi meskipun sudah jadi perwakilan sekolah”.
              Pada saat di UNHAS di pengambilan kartu peserta anak itu melihat temannya yang perwakilan sekolah(akmal , vega , ilham , dan miftah) dan mereka berjalan seolah-olah mereka tidak kenal dengan anak itu karena mungkin mereka merasa kalau mereka sudah unggul karena jadi perwakilan sekolah . anak itu berkata” aku yakin bahwa aku akan menang” .
              Saat tesnyapun mulai anak itu menempati kursi yang benomor A050 dan sambil melihat temannya yang perwakilan sekolah itu sambil berkata dalam hatinya “aku pasti bisa” dan tesnya pun dimulai dengan waktu tes yang hanya 45menit . Semua peserta mengerjakan soal yang telah di bagikan .
              Saat tesnya sudah selesai teman yang perwakilan sekolah itu mengatakan( vega) bahwa “tesnya tidak terlalu sulit”  tapi , anak itu bekata dalam hatinya  “tetap yakin saya pasti menang karena sebenarnya pengalaman dan kemampuan yang saya miliki itu sangat lebih banyak dari perwakilan sekolah itu (akmal , vega , ilham , dan miftah)”
              Setelah pengumuman hasilnya adalah anak itu berhasil lolos dan ternyata perwkilan dari sekolahnya(akmal , vega , ilham , dan miftah) itu semuanya tidak lolos dan bahkan hasil peringkatnya jauh di bawah nilainyapun sangat berbeda jauh . Lalu dalam hati anak itu mengatakan dalam hatinya “ kalian telah melihat kehebatanku”
              Pada saat setelah penguman temannya mekatakan banyak alasan , vega mengatakan “selamat ya’ buat bintang kamu telah berhasil lolos” lalu akmal mengatakan “jawaban saya benar kenapa hasilnya baanyak yang salah” dan mereka tidak mengakui kekalahannya .Mereka mengatakan begitu karena Bintang menang andaikan Bintang kalah pasti mereka akan mengatakan sebaliknya . Padahal Bintang pergi dengan uang pribadi dan mereka pewakilan sekolah .
              Pada saat babak semifinal Bintang kalah dan hanya menduduki peringkat 40 dan yang akan terpilih masuk final hanyalah 30 orang . tapi, walaupun Bintang kalah tetapi dia masih merasa senang dan sama sekali tidak ada rasa kecewa maupun sedih . Karena sebenarnya tujuan Bintang masuk lomba itu hanya ingin mengalahkan dan membuat malu vega dan akmal dan menghancurkan mereka . Bintang berkata dalam hatinya bahwa “walaupun aku kalah tapi tujuan utamaku telah tercapai dan aku tidak perlu menang yang penting aku mengalahkan mereka”
              Ini semua karena keyakinan anak itu dan kesombongan temannya (akmal  dan vega)  . Anak itu bisa membuktikan pada guru dan semua orang bahwa seorang Bintang DwiPutra itu bisa berhasil mengalahkan perwakilan sekolah(akmal , vega , ilham , dan miftah) yang di andalkan oleh kepala sekolah dan guru-guru lainnya . Ini membuktikan bahwa seorang bintang bisa mengalahkan seseorang yang dianggap hebat tapi, keberhasilan pembalasan dendam Bintang karena ada seseorang guru yang membangun percaya diri Bintang dan mengajarkan dia bahwa dia bisa berhasil jika disertai dengan keyakinan.
              Pada saat Bintang pulang dia mengetahui bahwa sebenarnya dia yang jadi perwakilan sekolah sementara vega bukan perwakilan sekolah . dia mengetaahuinya dari Ilham . Bintang “ ternyata Akmal dan Vega kompak untuk ikut lomba itu dan menyembunyikan semuanya dari aku”
              Sekarang Bintang sudah merencanakan cara berikutnya untuk menghancurkan ke-2 orang dan siapapun yang menghalanginya untuk membuktikan diri . Pasti Bintang akan membuat kejutan yang akan menghancurkan orang yang dia benci dan pembalasan dendam Bintang akan berlanjut lagi  dengan bermodalkan keyakinan dan percaya diri . Bintang berkata “ Aku akan menghancurkan mereka semuanya tanpa sisa”  Tunggu kelanjutan kejutan-kejutan berikutnya yang akan Bintang dan korban-korban yang akan Bintang hancurkan . 
 
;