Tampilkan postingan dengan label Cerpen Axtubee. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Axtubee. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 November 2011 0 komentar

BERAKHIR BY Wulandani Priana



BERAKHIR
Wulandani Priana
“jangan tinggalin aku chie”.
Hari itu di pemakaman Richie, aku tak bisa menahan untuk tidak meneteskan air mataku. Hari itu memang cerah, tapi bagiku hari itu seakan menjadi hari terburuk dalam hidupku. Hari itu tepatnya hari Sabtu, tanggal 7 bulan 7, 2007. Hari dimana aku harus melepaskan seseorang yang sangat ku sayangi. Hari dimana aku harus berduka, di saat semestinya aku bahagia karena hari itu tepat hari ulang tahun ku. Hari itu tidak akan pernah hilang dari ingatan ku.
Sekarang….
Setelah 2 tahun berlalu, semenjak kepergian Richie, aku terus melanjutkan hidupku, tentunya aku tak mau hidup terus-terusan dalam bayangan kematian Richie. Tapi semua tidak semudah membalikkan telapak tangan, sangat sulit untuk melupakan sedikit demi sedikit bayangan seseorang yang pernah kita cintai. Namun perlahan tapi pasti, aku terus melangkah dan mulai untuk dapat sedikit melupakannya.
Sekarang aku sudah menjadi siswi SMA, dan sudah sedikit menjadi seseorang yang lebih dewasa, bukan lagi seorang gadis polos yang masih sangat kanak-kanakan seperti saat aku masih SMP dulu. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa aku akan menjadi seperti sekarang ini, menjadi seorang remaja yang ingin bebas melihat dunia luar yang mungkin sangat kejam bagiku. Dan hal yang paling lazim dirasakan para siswa SMA yang mulai menginjak masa remaja adalah perasaan yang sering mereka sebut dengan CINTA.
Tampaknya perasaan cinta itu mulai menghinggapi hatiku. Ada seorang yang membuatku selalu berbunga-bunga apabila melihatnya, jantungku berdebar kencang apabila lewat di dekatnya, dan urat saraf ku seakan putus apabila mendengar suaranya. Seseorang itu adalah murid baru yang pindah dari luar negeri. Sejak hari pertama aku melihatnya, tampaknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Murid baru itu sangat mirip dengan Richie. Saat hari pertama dia masuk sekolah, orang pertama yang ia sapa adalah aku.
“Hi!” sapa Ricky begitulah namanya.
“Hi juga” kataku. Aku seakan di paku oleh tatapan matanya. Dan saat dia berlalu dari hadapan ku, harum tubuhnya masih terngiang-ngiang di pikiranku dan meracuni pikiranku. Yang sangat membuatku shock adalah karena dia ternyata akan sekelas denganku. Dan yang membuatku seakan ingin pingsan di tempat adalah karena dia memilih untuk duduk di dekatku, padahal banyak tempat yang masih kosong. Lalu tiba-tiba dia mengelus kepalaku dan itu membuat jantung ku semakin berdebar kencang. Aku bertanya- tanya apa maksud dari yang dilakukannya itu?
“semut”sela Ricky singkat.
“haa,,ohh makasih”jawabku kaget.
Pas aku denger dia ngomong hati ku serasa bergetar mendengar suaranya. Dan tiba-tiba juga bayangan Richie terlintas dipikiranku. Ricky memang sangat mirip dengan Richie, mulai dari caranya berbicara, gerak-geriknya, dan tingkah lakunya, membuatku semakin curiga dan semakin berharap bahwa Ricky itu memang Richie, tapi itu semua gak mungkin, karena gak mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali.
Kemarin Ricky mengajak ku pergi, saat aku tanya kemana, dia cuma bilang kalau kita mau ke tempat yang tidak sempat aku pergihi dulu. Selama di perjalanan menuju tempat itu aku tidak berhenti bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dari Ricky?, apa maksudnya dengan kata dulu? Memangnya aku pernah bertemu dengan Ricky dulu, seingatku tidak pernah. Hal ini membuatku semakin curiga dan penasaran. Setelah turun dari mobil dia menarik tanganku dan mengajakku berlari entah kemana itu. Tapi setelah beberapa meter berlari aku mulai sadar kalau tempat itu ternyata adalah bukit. Di perjalanan aku sempat merasa sangat lelah, karena itu ia terpaksa menggendongku sampai ke puncak bukit itu. Aku tak menyangka bahwa dia akan menggendongku, rasa simpatiku kian tak terbendung. Rasa cintaku seakan ingin membuncah memenuhi ruang hatiku dan mengalir menuju pembuluh darah kapiler lalu masuk ke dalam jaringan tubuhku dan menuju otakku.
“hahahahahaha”..tawaku dalam hati.
Sesampainya di puncak bukit itu, Ricky menunjukkan sesuatu padaku. Dia menyuruhku menunduk, entah apa maksudnya, tapi ketika aku menunduk ada inisial nama yang tertulis di puncak bukit itu, dan inisial itu adalah “RS”. Di atas inisial itu terdapat kata “Love”.
“apa kamu ingat ada seseorang yang pernah mengajak mu ke Bukit LoveRS?”Tanya Ricky dengan suara yang lembut.
“hmmmm…” tiba-tiba aku mulai teringat Richie. Richie dulu pernah mengajak ku ke bukit lovers, tapi kami tidak sempat sampai ke bukit itu karena di perjalanan Richie kecelakaan.
“iya,,aku ingat! Dulu ada seorang cowo yang pernah mengajakku ke bukit Lovers, tapi kami tidak pernah sampai ke bukit itu karena di perjalan cowo itu kecelakaan dan cowo itu meninggal.
Tiba-tiba Ricky mengajak ku duduk dan merangkul ku sambil berkata.
“mungkin kamu akan kaget, dengan apa yang akan aku katakan. Sebenarnya…….. aku adalah Richie, aku lah orang yang pernah mengajak mu kemari tapi kita tidak pernah sampai karena terjadi kecelakaan padaku dan aku meninggal. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkanmu secepat ini, aku sangat menyayangimu. Aku hidup kembali hanya untukmu, hanya untuk bersamamu, walau mungkin hanya sebentar dan aku hidup kembali hanya untuk mengatakan kalau aku sangat menyayangi dan mencintaimu. Setelah aku mengatakan perasaanku, aku akan kembali ke alam yang jauh itu, alam yang jauh berbeda dari alam mu. Dan setelah aku tahu bahwa kau juga mencintaiku maka semuanya akan berakhir, kau akan melupakanku seketika, dan kau akan menjalani hidupmu dengan normal tanpa pernah lagi mengingatku. . I Love you Sy.”
Setelah Ricky mengatakan semua tentang hal yang sebenarnya, suasana menjadi hening, karena aku tak sanggup untuk berkata apa pun. Yang bisa ku lakukan hanya menyandarkan kepalaku di bahu Ricky. Karena perasaanku yang tak menentu aku menetekan air mata, dan Ricky menghapus air mata ku dengan tangannya.
Tak lama kemudian aku tertidur dan saat aku terbangun, Richie sudah tak ada. Aku pun mencari Richie kemana-mana sambil meneriakkan namanya tapi dia tak juga muncul. Tiba-tiba aku tersadar, bahwa tadi Richie berkata kalau dia telah mengatakan perasaanya, dia akan kembali ke alam yang jauh, alam yang jauh berbeda dari alamku. Mungkin kah Richie telah pergi. Aku kembali menangis, kali ini aku menangis karena menyesal bahwasanya aku tidak sempat mengatakan pada Richie kalau aku juga sangat menyayangi dan mencintainya. Yang bisa ku lakukan hanya berteriak di tempat itu.
“I Love You to Richie, aku juga sayang banget sama kamu.. I Love You. Kenapa kau pergi terlalu cepat, kamu belum sempat dengar kalau aku juga sangat menyayangimu Chie..” aku berteriak sekuat tenaga ku agar Richie bisa mendengarnya, walaupun itu sangat mustahil.
Setelah aku lelah berteriak, aku hanya bisa berbaring sambil menangis di tempat itu dan berharap Richie bisa mendengar apa yang aku teriakkan tadi. Dan ternyata Richie memang mendengarnya. Sepucuk daun jatuh tepat di hatiku dan daun itu bertuliskan…


LoveStory
0 komentar

DIAMBANG BATAS BY Vega Vatimaf Mamora


DIAMBANG BATAS
BY Vega Vatimaf Mamora


          “kita mau kemana lagi? Kita pasti tertangkap kak!”  kata Ve sambil menggenggam tangannya sendiri.
          “kita harus lari, ini adalah warisan terakhir dari ayah! Kita tidak bisa memberikannya begitu saja!” kata Dominic untuk meyakinkan Ve.
          KRAAAAAK!! Lantai yang mereka pijaki retak. Ve tersentak kaget dan Dominic segera membungkam mulut Ve yang akan mengeluarkan suara nyaringnya itu.
          “Ve, kumohon. Ini adalah harta terakhir sebelum ayah kita meninggal, bantu kakak untuk menjaganya. Kita tidak boleh menyerah!” Dominic menatap Ve dengan mata yang berbinar. Memancarkan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
          “bbbaa baaaik kak” jawab Ve gugup.
          “apapun yang terjadi percaya sama kakak, kita pasti bisa selamat dari tempat ini”
          Ve pun hanya bisa mengangguk. Kemudian mereka berjalan menyusuri lantai kayu yang sudah rapuh digigit rayap. Mereka sangat berhati hati, berusaha meminimalkan suara yang mungkin bisa terdengar oleh para mafia yang mencari mereka. Langit langit rumah kayu tersebut terlihat kusam. Hanya ada cahaya matahari yang menembus celah atap rumah yang menjadi penerang mereka. Debu debu yang beterbangan bertebaran diseluruh ruangan.
          “kami tau kalian ada disini!” suara salah satu mafia menggelegar diseluruh ruangan.
          Ve dan Dominic menghentikan langkahnya. Mereka tidak bergerak, hanya deru nafas mereka yang memburu terdengar. Mata mereka memutar mengitari ruangan. Waspada dengan semua hal yang mungkin terjadi.
          “berikan kami kalung itu!” kata mafia yang lain mengikuti. Suaranya terdengar nyaring, berbeda dari mafia yang pertama tadi.
          Dominic menyimpan jari telunjuk di depan bibirnya, menunjukkan kepada Ve untuk tidak menjawab sahutan para mafia. Tubuh Ve gemetaran dan mengangguk perlahan. Ve hanya pasrah mengikuti semua perintah kakaknya dan terdiam seribu bahasa.
          Hening. Tidak ada suara yang terdengar. Ve dan Dominic mulai melangkahkan kakinya lagi menuju ke pintu keluar yang sudah tak jauh dari tempat mereka berada sekarang. Debu yang beterbangan tidak mengganggu keinginan mereka untuk mengeluarkan diri dari tempat neraka tersebut. Akhirnya mereka pun sampai di ruang tamu. Hanya perlu beberapa langkah laki hingga mereka akan mencapai pintu keluar. Ruang tamu tersebut masih tertata dengan rapih. Dengan 2 sofa yang berwarna merah, dan 1 meja kayu yang sudah terlihat sangat usang. Diatas meja itu pun masih terdapat Vas dengan bunga mawar layu didalamnya. Hanya saja jaring laba laba menghiasi seluruh ruangan.
          “Kalian mau kemana anak anak manis?” terdengar suara laki-laki dewasa yang mengangetkan Ve dan Dominic.
Mereka tidak pernah menyangka dibalik sofa itu telah ada seseorang yang menunggu kedatangan mereka. Kemudian Mafia yang lain pun datang. Mereka semua berjumlah 3 orang. 2 diantara mereka menyergap Ve dan Dominic. Memegang kedua pergelangan mereka dengan erat. Dominic mencoba untuk membuka genggaman mafia tersebut tapi tidak bisa. Disisi lain Ve hanya memperhatikan kakaknya dengan pasrah. Keringat semakin bercucuran, panas matahari semakin menambah ketegangan diantara mereka.
          “akhirnya permainan kejar kejaran ini pun berakhir, bukan begitu Dominic?”
          “lepaskan aku! Siapa kamu? Apa maumu hah?!” teriak Dominic dengan tatapan bengis terhadap mafia tersebut.
          “baiklah anak manis, namaku Alvin. Aku adalah rekan kerja ayahmu selama ia masih hidup. Tapi kami pernah mengalami selisih paham ketika mengekplorasi makam Tutankhamen yang berada di Mesir. Makam Tutankhamen adalah sebuah makam yang sangat misterius, karena tidak pernah ada arkeolog yang kembali dari eksplorasinya di makan Tutankhamen. Selain itu makam Tutankhamen juga dipercaya menyimpan ribuan harta terpendam. Singkatnya, saat aku dan ayahmu menemukan makam Tutankhamen, kami memiliki perbedaan pendapat. Ayahmu ingin menyerahkannya terhadap Negara, sedangkan aku ingin mengeruknya untuk kepentingan sendiri.”
          “bangsat!” kata Dominic menyela cerita Alvin.
          “hahaha tunggu dulu nak, biarkan aku menyelesaikan cerita ini. Setelah itu ayahmu membawa lari kunci makam Tutankhamen tersebut. Dan dengan terpaksa aku harus membunuh ayahmu saat itu juga” lanjut Alvin tanpa merasa berdosa sedikit pun.
          “jjaaa jjaadiii kamu yang telah membunuh ayah?” seru Ve dengan suara yang parau.

          Mata Ve menyergap-nyergap tidak percaya. Mencoba menelan ludah dan mempercayai apa yang telah dia dengar.
          BUUUUKKKK!! Alvin terhempas jatuh ke lantai. Saat mendengarkan cerita tersebut Dominic  dapat melepaskan diri dan segera menghantam Alvin dengan seluruh kekuatannya.
          “jangan lepaskan dia!” seru Alvin sambil mengusap bibirnya yang berdarah.
          “bajingan, dasar laki laki bajingan! Kamu telah membunuhku hanya demi harta!” teriak Dominic sambil menahan air matanya yang akan segera jatuh.
          “ayaaaah, hiks” tangis Ve mengingat kembali tentang ayahnya.
          “serahkan kalung itu!” Alvin sudah mulai kehilangan kesabarannya.
          “tidak akan aku berikan ke laki laki keparat sepertimu!” jawab Dominic.
          “BERIKAN KALUNG ITU”
          “TIDAK! Sampai mati pun aku tidak akan pernah memberikan kalung ini padamu!
          “baiklah kalau memang itu maumu. Bagaimana kalau adikmu yang tercinta ini harus menjadi korban pertama hari ini?”
          Alvin mendekati Ve perlahan. Kemudian Ve memalingkan wajahnya, dan mengigit bibir bagian bawahnya.
          “jangan sentuh dia dasar bajingan!” teriak Dominic sambil meronta untuk melepaskan diri.
          Alvin menengadahkan dagu Ve dengan paksa. Ve berusaha untuk memalingkan wajahnya tapi tidak sanggup.
          “adikmu memang cantik, persis seperti ibumu” kata Alvin.
          “lepaskan dia!”
          Alvin mengeluarkan pistol dari balik jas hitam yang ia kenakan. Dominic hanya mampu menelan ludah, dan melihat adiknya yang gemetaran. Ve tak sanggup lagi berkata-kata. Detak jantungnya semakin kencang dan ia pun hanya bisa mematung menunggu kejadian selanjutnya terjadi. Dominic pun menghela nafas panjang.
          “jangan sentuh dia, aku akan memberikan kalung ini. Asalkan kamu lepaskan adikku dan biarkan kami hidup tenang” kata Dominic dengan berat hati.
          “nah anak yang pintar, sekarang berikan aku kalung tersebut” jawab Alvin dengan senyum kemenangan.
          “lepaskan aku” kata Dominic kepada mafia yang memegang tangannya sejak tadi.
          Mafia itu pun mengarahkan kepalanya kepada Alvin untuk meminta persetujuan, Alvin pun mengangguk mengiyakan. Setelah dilepaskan Dominic merogoh kantong celana yang ia kenakan. Kemudian dengan sigap dia berlari menuju Alvin dan mengambil pistol yang sedang ia pegang.
          Mafia yang lain tak tinggal diam dan mulai bergerak menuju Dominic. Tapi saat Dominic akan menodongkan pistolnya kepada para mafia, Alvin mondorongnya dari belakang sehingga terjadi perkelahian yang sangat sengit.
          Ve hanya bisa berdiri kaku dan menggenggam kedua tangannya sendiri. Semua perasaan telah berkecamuk didalam hatinya. Ia bingung dan bimbang dengan apa yang akan dia lakukan. Sementara Alvin dan Dominic bergelut memperebutkan pistol tersebut. Kedua mafia yang lain hanya bisa berdiri menyaksikannya. Sampai kemudian..
          DOOOORRRRR!!
          Hening, semuanya terdiam. Terbujur kaku dengan semua yang berlalu dalam waktu hitungan detik. Darah mulai bercucuran membanjiri lantai kayu. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata apapun. Semua suara menghilang seiring suara tembakan tersebut. Dan seketika sebuah teriakan panjang memecahkan keheningan.
          “TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK”

Dan yang tersisa di ambang batas ketakutan hanyalah ..
KETIADAAN ..
0 komentar

YANG TERTINGGAL By Utami Masrura Rauf


YANG TERTINGGAL
By Utami Masrura Rauf

Di sebuah rumah yang hanya berdinding dan beralaskan koran, yang terletak di pinggiran rel kereta api, yang ditinggali oleh sepasang suami isteri, Rano dan Desi yang mempunyai seorang anak perempuan yang lumayan cantik, Sari namanya, yang sudah berusia empat tahun. Mereka hidup bahagia walaupun dengan keadaan serba kekurangan mereka masih dapat bertahan hidup.
Dua tahun kemudian, Desi melahirkan Sammy anak laki-lakinya yang lumayan tampan tetapi setelah melihat perkembangannya, anak ini agak bodoh lama kelamaan semakin nampak bahwa anak ini memang  terbelakang. Karena itu Sammy memiliki keterlambatan dalam tahap perkembangannya.
“Anak ini lebih baik kita berikan saja kepada orang lain, pak” Tanya Desi pada suaminya
“loh, emang apa yang salah dengan Sammy, kenapa harus di berikan kepada orang lain” jawab suaminya
“Saya tak sanggup untuk menjaga dan merawatnya lebih baik dia di berikan kepada orang lain untuk dijadikan budak” jawabnya mengeluh
“kenapa kamu ini? Kenapa begitu tega dengan anak sendiri?” Rano tidak mengerti dengan jalan pikiran isterinya.
Desi hanya terdiam dan duduk disebelah suaminya dengan muka yang tidak ceria.
“Untuk apa anak itu kita berikan kepada orang lain? Toh, masih ada kita sebagai orang tuanya yang bisa merawatnya?” Rano menasehati Isterinya.
“Ya terserah kamulah” sambil berdiri dan meninggalkan tempat duduknya dengan ekspresi wajah yang kesal.
Desi selalu tidak senang dengan Sammy, dia hanya menyayangi Sari. dia bahkan selalu memiliki niat buruk terhadap putranya sendiri. Tetapi, niat buruknya selalu dicegah oleh suaminya, Rano.
Suatu hari mereka mengunjungi Pasar malam yang diadakan di alun-alun kota. Mereka pergi dengan berjalan kaki.

“Bu, aku ingin beli topi yang ini!” pinta Sari
“kamu mau yang mana? Yang ini yah?” sambil menujuk topi yang ada di sana
“Bukan aku mau yang satunya lagi”  Sari menunjuk topi yang ingin dibelinya
“Oh yang ini!”
“Bang, yang ini harganya berapa?” Tanya Desi kepada penjual topi
“dua puluh ribu, Bu”
“gak kurang lagi nih bang? Lima ribu aja yah?” sambil mengembalikan topinya ke tempat semula
“ya udah lima belas aj Bu” pinta penjual Topi
“ya sudah, kalau udah gak bisa kurang” ucap Desi pasrah.
Rano juga ingin membelikan baju untuk Sammy, tetapi Desi melarangnya. Rano memang selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Isterinya. Padahal Sammy hanya memiliki pakaian-pakaian bekas yang berstel butut. Berbeda dengan Sari yang sering dibelikan pakaian oleh Ibunya.  
Ketidak adilan Ibunya dalam mendidik anak terkadang membuat Sari egois terhadap Sammy bahkan terkadang Sari tidak peduli terhadap Sammy.
Setelah beberapa tahun kemudian, Sari sudah mulai bersekolah dan Sammy sudah mengalami perkembangan dalam berbicara dan mulai bisa bersosialisasi tetapi belum begitu sempurna. Teman-teman Sari mengetahui bahwa Sari memiliki adik yang memiliki keterbelakangan. Sehingga membuat Sari sering di ejek oleh teman-temannya.
“Gara-gara kamu nih, aku jadi bahan ejekan teman-teman di sekolah” bentaknya kepada adiknya.
Sammy hanya menoleh ke arah Sari tanpa terucap satu kata pun olehnya. Karena memang Sammy belum dapat berkomunikasi dengan baik.
“Kenapa Liatin aku mulu? Emang lucu ap?” bentaknya lagi dengan nada yang begitu tinggi.
“Ada apa ini?” kata ayahnya yang mendengar keributan di antara mereka sambil berjalan ke arah mereka.
“Ini yah, gara-gara dia aku jadi bahan ejekan di sekolahan!” jawabnya manja
“Kamu itu harus belajar sabar untuk menjalani semua, kita sebagai orang susah memang selalu dianggap remeh oleh orang lain” ujar ayahnya menasehati.
“Aaarrrghh! Aku benci ayah” teriaknya sambil meninggalkan Sammy dan ayahnya.
Sammy bahkan tidak mengerti apa yang Ayah dan kakaknya katakan karena kemampuan untuk bersosialisasi dan berkomunikasinya memang masih belum sempurna.
Setelah kejadian tersebut Rano jatuh sakit, karena factor ekonomi sehingga Rano tidak dirawat di Rumah Sakit melainkan hanya dirawat oleh Desi dengan cara tradisional. Melihat perkembangannya keadaan Rano makin hari makin memburuk. Dan akhirnya Rano meninggal dunia.
Kepergian Rano dari dunia, membuat keadaan ekonomi mereka semakin miskin karena hutang yang kian lama kian menumpuk. Desi merasa sangat berat untuk menghadapi kenyataan tanpa suaminya, belum lagi ke dua orang anaknya beralih menjadi tanggung jawabnya seorang diri.
Saat Sammy tertidur lelap di dalam rumah mereka. Desi dan Sari meninggalkan rumah, tanpa mengingat bahwa mereka meninggalkan seorang anggota keluarganya yang sedang tertidur lelap. Desi memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung dan memilih bertempat tinggal di gubuk baru setelah menjual beberapa perhiasan dan perabot rumah lamanya untuk melunasi hutang-hutang yang membelenggu keluarganya.
2 tahun, 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun setelah kejadian itu, Desi telah menikah dengan seorang pria mapan bernama Sandi. Desi sangat beruntung diperisteri oleh Sandi, mereka telah menginjak tahun ke enam setelah pernikahan, Sandi berhasil mengubah Desi menjadi seseorang yang lebih penyayang dan sabar dan meninggalkan sifatnya yang pemarah, egois, dan tinggi hati. Sari sudah berumur 18 Tahun dan bersekolah di salah suatu sekolah yang bergengsi. Tanpa ada yang mengingat dan peduli lagi dengan Sammy.
Sampai suatu malam, Desi bermimpi bertemu dengan seorang anak yang agak tampan dan sangat terlihat pucat. Anak itu berjalan ke arah Desi sambil tersenyum ia berkata “Tante… tante! Kenal sama Mama saya?? Saya lindu cekaali dengan Mama”. Setelah mengatakan itu anak itu langsung beranjak meninggalkan Desi.
“Tunggu! Sepertinya saya mengenalmu” kata Desi sambil menahan anak tersebut.
Anak itu pun menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke Desi
“Nama kamu siapa?”
“Nama saya Ammy tante”
“Sammy? Kau benar-benar Sammy?”
Desi tersentak dan bangun dari tidurnya. Rasa bersalah, sesal, dan berbagai macam perasaan aneh lainnya menghantui pikiran Desi seketika. Tiba-tiba semua kejadian masa lalu ironis yang telah dialaminya terekam kembali seperti sebuah film di dalam pikirannya. Desi baru menyadari akan perbuatan jahatnya terhadap putranya sendiri, Desi merasa menjadi seseorang yang begitu berdosa dan tidak pntas lagi  untuk hidup di dunia ini. Desi bahkan berniat untuk bunuh diri jarak antara pisau dengan tangannya tersisa 1 cm lagi tiba-tiba bayangan Sammy langsung terlintas kembali di pikirannya.
“Sammy, Mama akan menjemput Sammy!” tegasnya dengan hati yang teguh.
Sore itu, Desi memarkir mobilnya di samping sebuah gubuk dan Sandi memandang Desi dengan heran.
“Ada apa Desi? Apa yang terjadi dengan dirimu?” Tanya Sandi khawatir
“Sandi, aku takut setelah menceritakan kejadian masa lalu ini kamu akan membenciku “ ucapnya takut
Desi tetap menceritakan hal tersebut kepada Sandi dengan terisak-isak.
Ternyata Sandi memang pengertian kepada Desi. Desi merasa begitu bersyukur kepada Tuhan atas keberuntungannya mendapatkan seorang suami yang begitu baik kepada dirinya
Setelah tangisan reda, Desi keluar dari mobil dan diikuti oleh Sandi dari belakang sambil menghampiri sebuah gubuk tua, Desi memandangi gubuk tua yang berada 2 meter di depannya. Desi teringat akan gubuk tua itu telah mereka tinggali bersama selama beberapa tahun, dan bodohnya lagi Desi meninggalkan putranya seorang diri di dalam   gubuk tua tersebut. Dengan perasaan yang sedih dan penuh air mata mengingat kebodohannya Desi berlari menghampiri gubuk tua dan langsung mebuka pintu gubuk yang hanya terbuat dari bambu.
Gelap, tak seorang pun yang ada di dalam gubuk tua itu. Di dalam gubuk itu hanya terdapat kain dan pakaian-pakaian butut yang selalu digunakan oleh Sammy. Desi terkejut, pandangannya lurus kedepan tanpa ada kata yang terucap dari bibirnya. Dengan berlinang air mata Desi keluar dari gubuk itu bersampur dengan rasa menyesalnya yang begitu dalam.
Saat berjalan menuju mobilnya. Langkahnya terhenti oleh suara seorang nenek yang menegurnya.
“hei! Siapa kamu? Mau apa kamu ke sini?” tegur si nenek.
Desi hanya berbalik ke arah nenek tersebut dengan wajah penuh air mata.
“jika kamu adalah Ibu dari anak tersebut sungguh terkutuk dirimu” membentak
“di mana Sammy? Apakah nenek melihatnya?” jawabnya mendesak
“kau sungguh tidak punya hati, meninggalkan anakmu yang tak bersalah di dalam gubuk tua ini” sambil memberikan Desi sepucuk surat.
“surat? surat apa ini?” tanyanya bingung.
“surat itu ditulis oleh anakmu Sammy, dia berusaha belajar untuk menulis selama kamu meninggalkannya, hingga akhirnya dia berhasil menulis sepucuk surat untukmu yang dititipkan kepadaku” jawab si  nenek
Desi segera membuka surat tersebut sambil berjalan menuju  gubuk,
“Selama Mama pergi, yang tertinggal hanyalah. . . . . .!”

The End
0 komentar

TAK SAMPAI.. By Sukma Arifin


TAK SAMPAI..
By Sukma Arifin

Saat itulah terakhir kalinya aku bertemu dengan Rivi dipemakaman, selanjutnya hapenya enggak pernah aktif lagi, dia juga enggak pernah ngasih kabar. Bagaimana keadaan dia sekarang ? Dia pasti semakin tertekan. Padahal aku ingin bertemu dengan Rivi untuk minta maaf soal kemarin. Mungkin dia enggak suka dengan kata kata ku kemarin. Seminggu kemudian aku baru tahu saat Pak Arkham satpam sekolah ngasih aku biola Rivi, pak satpam bilang kalau Rivi sudah pindah seminggu yang lalu. Sejenak aku hanya terdiam “ini kan biolanya rivi kenapa dikasih sama aku ? Mana mungkin biola kesayangannya dikasih sama orang yang selalu buat dia kesel setengah mati” kata ku dalam hati
Dalam hati kecil ku aku tersenyum, ternyata Rivi ngikutin saran ku. “Tapi kenapa kamu enggak ngasih kabar sih Riv? Kenapa kamu langsung pergi ajah ? Apa susahnya sih bilang aku mau pergi ? Atau kamu masih marah sama aku ? Kenapa.. kenapa.. kenapa.. ” beribu ribu pertanyaan yang menghampiri ku. Malam itu aku tidak bisa tidur, bayangan Rivi terus menghantui ku. Aku terus memandang biola pemberian Rivi. Aku merasa sangat kehilangan. Padahal aku baru saja dekat dengan Rivi. Aku kembali meraih selembar kertas yang ada didalam tempat biola itu.

“akhirnya aku putuskan untuk mengikuti kata-katamu, aku titipkan biola ini ke kamu. Jaga biola ini baik baik. Suatu saat aku ingin melihat kamu memainkannya. Tanggal 7 juli nanti aku akan menemuimu setelah itu aku akan kembali lagi di New York. Tunggu aku ditempat biasa. Makasih yah saran mu, berkat kamu aku udah baikan sama papa :)”

Kalimat ini yang membuat ku masih berharap bisa bertemu dengan Rivi lagi , diam diam aku juga mulai menyukai Rivi. “Inikah cinta ?” tanya ku dalam hati. Lama lama memikirkan Rivi membuat ku tidak sadar dan tertidur lelap…
***
10 bulan kemudian, tepatnya 7 juli aku ke taman tempat perjanjian ku dengan Rivi, berharap Rivi mengingat janjinya dan datang ke sini, walaupun pertemuan ku ini hanya sebentar dan akhirnya dia akan kembali lagi ke new york, aku tetap ingin ada Rivi disini, aku selalu berdoa dalam hati bahwa aku masih sempat bilang kalau aku sayang sama dia.
Sudah larut malam, Rivi belum juga datang. Karena jenuh akupun mengambil biola itu dan memainkannya. Aku hanyut dalam suara gesekan biola ini. Tiba tiba disudut taman aku melihat Rivi berdiri memandangku, wajahnya pucat. Walaupun saat itu gelap, tapi aku masih bisa lihat Rivi dengan jelas. Yah aku tau itu Rivi ! aku berjalan kearah Rivi, disana dia hanya terdiam dengan tatapannya yang kosong. Akupun menghampirinya.
“terima kasih udah mau datang…” katanya pelan…
“kenapa baru datang ? dari tadi siang aku nungguin kamu tau Riv” kataku dengan wajah kesal, sekali lagi wajahnya masih tetap pucat. Rivi hanya terdiam membisu menatap ku kosong. Seketika Rivi memegang tangan ku. Aku merasakan sesuatu yang aneh, entah apa itu, tangan Rivi terasa dingin. Ada apa dengan rivi ?
“aku udah enggak ada, aku datang kesini secara utuh bukan sebagai arwah atau roh, tapi bukan berarti aku masih hidup, kamu harus menerima semua ini, karena semua ini sudah takdir. Tuhan ngasih aku waktu mala mini datang menemui kamu, untuk bilang aku sayang kamu, aku rindu kamu, aku mau ketemu sama kamu” lirihnya.
“maksudnya apa ? aku enggak ngerti?” tanya ku pada rivi dengan wajah penuh tanya.
“aku kesini untuk bertemu kamu. Untuk lihat kamu memainkan biola itu. Aku tau biola itu akan terlihat lebih indah dan berharga bila ditangan kamu. Dan akhirnya aku bisa melihat dan merasakan kehebatan biola ini, aku sayang kamu Aurel”
Tiba tiba hening..
Aku menatap rivi yang pucat. “oh tuhan tadi Rivi bilang kalau dia udah enggak ada ? inikah terkahir kalinya aku bertemu orang aku sayangi ?” jerit ku dalam hati. Rivi terus menatap ku, aku juga hanya membisu menatapnya berharap semua ini hanya mimpi. Sunyi, sepi, senyap, hening, hanya ada suara dedaunan yang dihembus angin.
“jadi sekarang kamu mau pergi ? kamu datang ke sini hanya untuk bilang sayang, lalu pergi ninggalain aku begitu ajah ?” tanya ku memecahkan keheningan.
“maaf, seandainya aku bisa katakan ini lebih cepat…” Seketika cahaya putih menyambar rivi..
Gelaaaaaaaaap…

0 komentar

Terengkuh By Sitti Monalisa


Terengkuh
By Sitti Monalisa
     Mirsya dan Arya, itulah nama mereka berdua. Mereka berdua bersekolah di SD yang berbeda. Sebenarnya mereka tidak saling mengenal, tapi karena keusilan teman–teman mereka yang selalu menggoda mereka akhirnya mereka saling mengenal. Awalnya, mereka hanya berteman saja. Satu tahun pun berlalu, mereka telah duduk dibangku SMP. Entah karena apa Arya tiba–tiba menyatakan cinta pada Mirsya, padahal Arya sudah memiliki pacar. Bodohnya lagi, Mirsya menerima Arya padahal Mirsya sudah tau hal itu. Awalnya Mirsya hanya iseng menerima Arya tapi lama-kelamaan Mirsya sangat menyayangi Arya hingga ia tak mau kehilangan Arya. Arya pun memutuskan untuk meninggalkan pacar pertamanya.
     Setlah setahun hubungan mereka berjalan. Disuatu hari mereka jalan berdua, karena kehendak Tuhan Yang Maha Esa mereka akhirnya kecelakaan. Luka Arya tidak parah, tetapi Mirsya di bawa ke UGD karena lukanya parah. Semua orang telah mengira bahwa Mirsya tidak akan selamat. Hari itu sangat dipenuhi air mata. Akhirnya Mirsya pun sadar. Setelah Mirsya sudah agak mendingan, Mirsya ingin segera pulang kerumah. Keesokan harinya Mirsya mendapat kejutan yang tidak ia duga, Mirsya mendapatkan kabar bahwa Arya telah mempunyai pacar selain dia. Mendengar kabar itu, hati Mirsya serasa tercabit-cabit. Mirsya pun segera menelpon Arya untuk membuktikan hal itu, ternyata semua kabar itu benar dan parahnya lagi Arya mengakhiri hubungannya dengan Mirsya demi pacar barunya. Mendengar pernyataan Arya, Mirsya langsung menangis. Ia tidak bisa menahan sakit hatinya. Hatinya serasa diiris sembilu. Mirsya merasa  putus asa untuk hidup. Karena rasa sayang Mirsya begitu besar ke Arya. Dengan mudahnya Mirsya memaafkan Arya.
     Beberapa bulan pun berlalu, sakit hati yang dirasakan Mirsya sedikit demi sedikit telah hilang dari benaknya, walaupun rasa sakit itu bagaikan duri yang telah menyatu bersama lunaknya daging hati Mirsya tapi ia telah mulai melupakan Arya. Kini Mirsya mendapatkan pacar baru yang begitu sayang kepadanya yang bernama Indra. Saat Mirsya mulai bahagia dengan kehidupan barunya, Arya pun kembali kehidupannya sebagai seorang sahabat. Sebulan setelah Mirsya mempunyai pacar, Arya tiba-tiba member tahu Indra bahwa “ia telah berpacaran dengan Mirsya selama 2 bulan”. Mendengar perkataan Arya, Indra pun sangat marah. Tanpa berpikir panjang ia segera member tahu Mirsya hal itu. Mirsya pun kaget mendengar hal itu. Mirsya pun berusaha menjelaskan apa sebenarnya terjadi. Akhirnya, Indra pun percaya. Mirsya masih bingung dan bertanya-tanya mengapa Arya melakukan hal itu. Setelah 3 bulan menjalin hubungan dengan Indra, ia pun mengakhiri hubungannya dengan Indra (pacarnya) dan memutuskan untuk kembali lagi dengan Arya. Setelah menjelang UN Mirsya kembali mengakhiri hubungannya dengan Arya karena alasan ia ingin serius belajar. Arya pun menerima keputusan Mirsya meskipun ia agak kesal dan merasa telah dipermainkan.
     UN pun telah selesai, Arya juga telah mempunyai pacar bernama Siska. Setelah Mirsya mengetahui hal itu, ia juga menerima Farel untuk menjadi pacarnya. Meskipun Mirsya dan Arya telah mempunyai pacar , tapi mereka tetap akrab seperti biasanya. Arya juga selalu cerita tentang hubungannya dengan Siska. Tidak lama kemudian Mirsya kembali lagi mengakhiri hubungannya dengan Farel karena ada kesalahpahaman. Tidak lama setelah Mirsya putus dengan Farel, Arya pun melakukan hal yang sama terhadap Siska. Setelah kejadian itu, Mirsya memutuskan untuk sementara waktu tidak pacaran. Berbeda dengan Arya, ia menjalin hubungan dengan Dhea yang tidak lain adalah sahabat baik Siska sendiri. Tentu saja persahabatan Siska dengan Dhea hancur gara-gara hal itu. Setelah 6 bulan Arya dan Dhea pacaran . tak ada angin tak ada hujan Arya tiba-tiba menelpon Mirsya dan member tahu ia akan mengakhiri hubungannya dengan Dhea asalkan Mirsya mau kembali dengan dia, tentu saja Mirsya menerima Arya kembali.
     Hmm… indahnya hidup kini dirasakan lagi oleh Mirsya, tidak seperti biasanya Mirsya sangat ceria dan semangat dalam menjalani hidup. Arya memang telah menjadi motivasi dan semangat bagi Mirsya. Banyak moment indah yang telah dilalui mereka berdua seperti jalan-jalan, ke pasar, dan belajar bersama. Tentu saja semua itu tidak akan mudah dilupakan oleh Mirsya. Mirsya berharap agar semua itu tidak akan berakhir. Tidak lama kemudian, sahabat Farel ingin menjadi pacar Mirsya. Tentu saj Mirsya menolaknya karena dihati Mirsya hanya ada satu orang orang yaitu Arya. Sebenarnya Mirsya ingin member tahu Arya tentang hal itu, tapi setelah Mirsya memikirkannya dengan matang, alangkah baiknya Mirsya tidak member tahu hal itu. Dengan sangat terpaksa Mirsya menyembunyikan hal itu, itu dilakukan karena Mirsya tidak ingin membuat Arya marah dan merasa dikecewakan (dibohongi).
     3 bulan pun berlalu, akhirnya Arya mengetahui hal itu. Arya sangat kecewa dan sangat marah dengan kelakuan Mirsya. Arya merasa telah dibohongi oleh Mirsya. Saking marahnya, Arya tidak mau lagi mendengar penjelasan Mirsya. Mirsya pun sangat sedih dan berusaha untuk meminta maaf kepada Arya tapi Arya tidak memperdulikannya. Mirsya bingung, apa yang harus Mirsya lakukan agar Arya tidak marah lagi padanya. Mirsya pun terus berusaha, tapi apa yang terjadi? Mirsya hanya mendapatkan makian dari Arya dan memutuskan hubungan mereka . Mendengar perkataan Arya tersebut, Mirsya langsung meneteskan air mata. Hatinya sangat sakit dan ia tak menyangka bahwa orang yang sangat dia sayangi setega itu. Saking sakit hatinya, Mirsya terus menangis dan tidak tidur semalaman. Semua yang dulu terjadi kini kembali lagi terjadi. Tanpa adanya rasa bersalah, Arya mengucapkan hal itu. Apa Arya tidak menyadari kalau Mirsya sangat menyayanginya? Semuanya terjadi begitu saja. Siang hari bagaikan malam, pelangi pun berwarnakan kelam. Apakah ini yang dinamakan patah hati? Itulah sekarang yang dirasakan oleh Mirsya.
     Suatu perkataan yang keluar dari mulut Arya bagaikan janji sacral yang selalu diingat dan tertanam membekas dihati Mirsya yaitu saat Arya berkata “aku tak mau lagi pacaran denganmu dan aku tak lagi menyayangimu”. Perkataan itu sangat menusuk bagi Mirsya. Apa Mirsya salah menyayangi Arya? Apa Mirsya tak layak untuk bersama Arya? Apa Mirsya tak pantas bagi Arya? Apa ini adil bagi Mirsya? Ataukah ini karma untuk Mirsya?
     Suatu hari Mirsya bertemu dengan Arya. Tanpa basa-basi Arya mengatakan kalau ia masih menyayangi Mirsya dan ingin kembali seperti dulu. Arya juga berkata, semua perkataannya yang dulu tidak benar melainkan hanya terbawa emosi tapi Mirsya tetap diam membisu. Arya pun terus meyakinkan Mirsya karena Mirsya tidak tahan lagi melihat muka Arya, ia pun pergi dan berlari meninggalkan Arya. Arya pun mengejarnya. Mirsya terus berlari dan akan menyebrangi jalanan aspal yang panas karena sengat matahari. Seketika tuk pengangkut kapas berjalan dengan kecepatan 100 km/jam dihadapan Mirsya. Mirsya yang sedang galau tak sadar dengan semua yang ada disekitarnya. Arya berlari mendekati Mirsya yang mematung di tengah jalan. Truk semakin mendekat dan Arya berlari memeluk Mirsya.
Hanya sepersekian detik dn semuanya gelap.

0 komentar

Menangis Untuk Ibu By Muhammad Alghani


By Muhammad Alghani
Waktu telah menunjukkan pukul 04.00 PM, Aku terbangun dari tidur malam yang tidak begitu nyenyak. Ibu ku batuk-batuk di ruang tamu yang tak jauh dari kamar tidurku. Batuk tidak berdahak yang berulang-ulang dilakukannya. Batuk yang begitu menyesakkan dadanya dan sangat membisingkan telingaku. Sebenarnya tak ingin aku mendengar suara yang menyita otak dan menggelisahkan itu. Kapan suara kasar itu akan berhenti ku dengar? Menjadi tanya sejenak dibenakku. Namun tetap saja tidak bisa aku elakkan suara itu. Belum lagi nafas Ibu yang bersuara seperti ada peluit di tenggorokannya. Ya, Ibu ku mengidap penyakit Asma sejak kurang lebih 6 bulan belakangan ini. Nafas di tenggorokkan yang terdengar jelas bersamaan mengeluarkan oksigen dari hidung. Sulit baginya saat itu untuk menarik ulur-nafasnya yg telah tersengal-sengal. Ntah kenapa setiap mendengar suara itu aku ingin pergi jauh saja. Tak ingin mendengarkan itu semua dari Ibu. Tak sanggup. Namun Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Bagaimanapun dia tetap Ibu yang sangat aku sayang.
            Terduduk Dia di kursi empuk ruang tamu dengan lampu padam. Benar-benar menggangu sekali nafas Ibu yang tersengal-sengal itu. Disaat sulitnya Dia mengatur nafas, aku dengar Dia menyebut, “Ya Allah.” Mungkin itu wujud rasa sakit yang Ia tahankan di dada demi meminta bantuan dari Tuhan. 04.05 AM
            5 menit aku tak tenang, badan ku gelisah, bolak-balik mengatur, terkadang ingin menutup telinga dengan bantal, namun tak bisa. Ingin tak ingin aku mendengar keluh hati yang keluar dari tarik-ulur nafasnya. Selama lima menit pula Aku dan Ayahku mengabaikan namun menghiraukan Ibu di puncak sakitnya selama ini.
            Aku keluar membuka pintu, segera ku jumpai sosok Ibu yang terduduk lemas di kursi. Menjatuhkan kepalanya kesandaran kursi, duduk tegak dengan kedua tangan di atas lengan kursi, memejamkan mata layaknya orang tidur yang mengigau dan tentu dengan nafas satu-satu. Sungguh tak sanggup melihatnya. Ini ke-2 kalinya aku melihat tubuhnya begitu lemas dan mengantarkannya ke Rumah Sakit terdekat sejak kurang lebih 6 tahun silam.
           Cepat-cepat kami menuju Rumah Sakit di pagi buta dengan menggunakan sepeda motor. Keadaan Ibu lebih lemas dari sebelumnya. Di tambah udara dingin pagi yang membuat Ibu semakin sulit untuk bernafas. Terdengarku Ia mengeluh kedinginan dengan suara yang begitu pelan. Tidak jauh memang jarak RS dari rumahku, paling 400 m. Apalagi dengan menggunakan sepeda motor tapi saat itu seperti gerakan slow-motion bagiku mungkin karena dihantui rasa takut dan khawatir yang dalam.
04.20 AM
            Tiba di UGD, segera ku bopong Ibu ke ruang UGD sambil menuggu perawat datang setelah seorang satpam membukakan pintu yang dikuncinya dari dalam. Bener-bener kasian aku melihat Ibu. Tak tertahankan lagi air mata, namun tak ku biarkan air bening itu menetes begitu saja. Sementara Ibu sedang ditangani oleh perawat yang baru saja datang dengan langkah cepatnya.
04.30 AM
            Sungguh tak tenang. Pikiran terbang ntah kemana-mana. Berdoa dalam hati kepada Sang Khalik agar Ibu segera sehat. Berharap ini untuk terakhir kalinya. Berharap sehat selalu. Sempat juga ku meminta kepada Tuhan untuk tukar posisi antara aku dan Ibu. Berharap keadaan berpindah kepada ku. Biarlah aku yang merasakan sakit yang diderita Ibu.
08.23 AM
             Setelah selesai memberi Ibu sarapan dan obat serta sudah beristirahat beberapa jam, Dokter yang khusus menangani penyakit Asma Ibu pun datang untuk memeriksa kondisinya sejauh ini. Di periksanya detak jantung Ibu dengan stetoskop yang menggantung dilehernya. Ditanyanya sebab kambuhnya. “Semalam Ibu kena hujan dan kecapeaan juga, Dok. Tadi malam nafasnya mulai sesak. Tapi nggak separah subuh tadi.” Aku jawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk Ibu. “Mmmm…. Ibu memang nggak bisa dicuaca dingin dan lembab apalagi kecapean. Memang semalam satu harian cuaca dingin dan hujan. Setelah ini, dengan hitungan detik saja ronsen telah selesai. Namun belum bisa kami ketahui hasilnya seperti apa.
03. 25 PM
             Alhamdulillah, keadaan Ibu sudah membaik. Bicara sudah jelas dan berinteraksi dengan baik, mengatur dan bernafas dengan baik.
Rabu (02/02) ; 05.00 PM
             Ibu sudah sehat seperti biasa. Dan keluar dari Rumah sakit. Aku selalu mendoakn yang terbaik buat Ibu dan keluarga. I Love My Family.


Nama        : Muhammad Algani Rasidi
Kelas         : X alkselerasi
0 komentar

Makna kata “maaf” By muh. Danawir alwi


 Makna kata “maaf”
By muh. Danawir alwi

Keheningan malam lenyap seiring sang fajar yang mulai menyingsing. Kabut tipis yang menyelubungi kota itu perlahan hilang. Kokok ayam terdengar di atas sebuah rumah sederhana,  tempat  seorang anak dan ibunya tinggal, dialah Agus .
Pagi itu,Agus yang seorang siswa SMA Negeri 3 Sengkang, dengan menggunakan sepeda buntut ayahnya dia berangkat ke sekolah, seperti biasanya pada hari Kamis dia lebih awal ke sekolah yang merupakan  salah satu siswa yang membersihkan kelas. Sangat mengherankan memang di zaman yang sudah modern ini, yang rata-rata anak SMA telah menggunakan motor, dia masih memakai sepeda ayahnya yang karatan.
              Setiba di sekolah dia langsung  mengambil sapu dan mulai membersihkan, sambil menanti temannya yang juga bertugas pada hari itu. Di saat bersamaan sesosok wajah yang tiba-tiba saja melewati  lantai yang baru saja dipel olehAgus.
“ hai masih kotor  tuh, kamu ngepel atau apa”. ujar cewek yang bernama Siska itu tanpa rasa bersalah.
Dengan sabarAgus mulai membersihkan kembali lantai yang telah diinjak oleh Siska tadi.
       Berbeda denganAgus, Siska adalah seorang anak yang berpunya, dan sangat membenciAgus karena kemiskinannya. Jam telah menunjukan pukul 07.30 saat bel berbunyi pertanda proses belajar dimulai.
“selamat pagi anak-anak “ sapaan hangat dari ibu hj. Astuti yang merupakan guru mata pelajaran bhs. Indonesia
“Pagi bu” siswa serentak.
“ minggu  lalu ibu memberikan tugas untuk  membuat puisi,  pasti kalian telah  mengerjakaannyakan, sekarang ibu akan memanggil salah satu dari kalian untuk membacakan puisinya ” ujar ibu guru.
              

                   “Siska coba baca puisimu di depan “sambung ibu guru”
                   “a….a….anu bu” Siska gugup
                   “kenapa fin ayo cepat ke depan”  bu guru penasaran
                   “tu….tu…tugasku belum selesai bu”Siska terbatah-batah
                   “apa,  ibukan sudah memberikan waktu selama seminggu, sekarang
                     berdiri di depan sampai mata pelajaran ibu selesai “ bentak ibu
                     guru mulai kesal.
Dengan perasaan sebal Siska harus menerima hukuman dari ibu guru.
                             “Sekarang kamuAgus coba baca puisi kamu di depan”ujar ibu  
                              guru
                             “baik bu” jawabAgus sambil menuju ke depan
Agus yang memang gemar membuat puisi, dengan lantunan-lantunan khas yang dia bawakan, membuat para teman-temannya terpukau kecuali satu orang yang malah makin benci kepadanya yaitu Siska. Sepulang sekolah Siska yang ingin menuntut  balas, dengan bantuan beberapa teman laki-lakinya dari kelas lain dia membocorkan ban sepeda Agus, tak hanya itu di tengah jalan, Agus dikroyok oleh teman-teman suruan Siska, untunglah ada seorang bapak yang melihat kejadian tersebut dan menghentikannya.  Melihat bapak itu datang anak-anak yang mengeroyok Agus segera lari.
“terima kasih pak” ujar Agus sambil berdiri
“iya, apa kamu kenal sama mereka” kata bapak yang penasaran
“tidak pak, saya juga tidak tau kenapa mereka memukul saya” sambung Agus
“lain kali hati-hati ya nak” kata bapak itu sambil meninggalkan Agus.
  Keesokan harinya,Agus yang agak memar pada bagian mukanya, masih berusaha pergi ke sekolah. Saat akan masuk ke kelas, tiba-tiba Siska yang sudah ada di kelas, mendekatiAgus.
 “ gimana, sakit ya dikroyok kemarin” ujar Siska
“apa  kamu yang menyuruh anak-anak itu mengeroyok ku” Agus bertanya
“kalau iya kenapa, itulah akibatnya kalau selalu cari perhatian guru” bentak Siska.
“maksud kamu apa”Tanya Agus bingung.
“alah jangan pura-pura bodoh deh”ujar Siska sambil meninggalkan Agus.
       PerasaanAgus  bercampur aduk antara marah dan sedih, dia masih tak percaya mengapa hal itu bisa terjadi seperti itu, tapi dia juga sadar bahwa dia itu laki-laki tak sepantasnya dia  melawan  seorang cewek. Akhirnya diapun dengan perasaan tabah, menuju ke tempat duduknya.
  Sesaat setelah jam istirahat pak subair memanggilAgus lewat pengeras suara.beberapa saat kemudianAgus tiba di ruangan pak subair.
    “ assalamualaikum pak”agus memberi salam
    “ waalaikumsalam ayo masuk tom”pak subair mempersilahkanAgus masuk
   “ terima kasih pak”balasAgus sambil duduk
   “ begini tom, kamu taukan sebentar lagi kamu akan menghadapi ulangan semester, sedangkan tunggakan kamu masih belum kamu lunasi” pak subair mumbuka pembicaraan
   “ iya saya mengerti pak, tapi saya mohon  beri kami waktu pak, saya janji  saya akan  membayarnya pak, Cuma waktu ini kami tak mempunyai uang pak.agus sambil mengibah
   “ Iya,bapak mengerti kesulitan kamu tom, tapi kita juga mempunyai aturan sekolah yang harus dipatuhi, begini saja nak, bapak kasih waktu sampai 2 minggu nak, untuk melunasi pembayaran kamu. Cuma itu yang bisa saya lakukan nak,sekarang kamu boleh pergi. Ulas pak subair
  “iya terima kasih pak” balasAgus sambil meninggalkan ruangan itu
   Matahari terbenam lebih cepat dari biasanya, sebuah percakapan terdengar dari rumah Agus.
“ bu, pak subair tadi mengingatkan Agus bu, tentang tunggakan Agus selama 4 bulan, yang sampai sekarang belum lunas”Agus yang agak murung
“sampai sekarang ibu belum punya uang, hasil dari menjual sayur di pasar saja cuma cukup untuk kita makan saja, kamu sabar aja ya ibu pasti akan berusaha lebih giat lagi untuk cari uang” ibuAgus mencoba menenangkan anaknya
“agus juga akan membantu ibu mencari uang” ujar Agus
“tidak usah tom, itu tugas ibu, tugas kamu itu belajar agar kelak bisa dapat kerja yang mapan”balas ibu Agus
“tapi bu…..”agus yang agak sedih
“ibu bilang tidak usah nak, kamu belajar aja yang tekun, itu udah buat ibu senang” ibuAgus sambil menuju ke dapur menyiapkan makanan.
  Keesokan harinya, seperti biasa pagi ituAgus sudah siap berangkat ke sekolah. Dengan menggunakan sepedanyaAgus menysuri jalan raya yang masih sepi. Hari itu muka Agus agak murung, dia masih memikirkan tunggakannya yang belum lunas selama 4 bulan. Setiba di sekolah,agus langsung memarkirkan sepedanya tak jauh dari kelasnya. Ketika hendak masuk ke kelas, dia berpapasan dengan Siska
 “eh si miskin udah sampai” ejek Siska
 “sampai kapan kamu mau ngejek aku”agus agak kesal
“ya, sampai kamu ngga miskin”Siska makin mengejek
“aku memang miskin harta, tapi setidaknya aku masih punya hati dan teman yang menyayangiku“ balasAgus sambil meninggalkan Siska
Siska seolah diam seribu bahasa mendengar perkataanAgus tadi, dia tak menyangka kata-kataAgus itu begitu terngiang dalam telinganya. Dia merasa bahwa dia tak lebih kaya dariAgus. Mungkin dia memiliki harta tapi tidak untuk kasih sayang dari orang tuanya apalagi teman. Hal itu masih berlangsung hingga proses pembelajaran dimulai, tanpa sadar Siska meneteskan air mata.
  “ kami kenapa fin” kata ibu astuti yang kebetulan mengajar pada waktu itu
  “ oh, tidak ada apa-apa kok bu” sahut Siska begitu tersadar.
Agus yang melihat Siska menangis merasa bersalah.
“apa mungkin  gara-gara aku membentaknya tadi”ujarAgus dalam hatinya
Sepulang sekolah Siska mencariAgus yang ternyata lebih dulu pulang, ketika di perempatan jalan Siska akhirnya melihatAgus dan ingin mendekatiAgus. Namun tiba-tiba  mobil sedan merah yang melaju kencang dari jalur berlawanan tak sengaja menyerempet motor Siska. Siska yang tak dapat mengendalikan motornya akhirnya menabrak trotoar dan akhirnya tak sadarkan diri. Begitu tersadar dia telah berada di suatu ruangan. Tiba sesosok wajah muncul.
“ kamu sudah sadar nak syukurlah” kata orang itu
“ayah, aku dimana dan apa yang terjadi” ujar Siska yang tampak mengenal orang itu yang tak lain ayahnya
“kamu sekarang berada di rumah sakit nak, tadi kamu terserempet mobil dan tak sadarkan diri, untunglah ada anak ini yang segera membawa kamu ke rumah sakit”. Balas ayah Siska sambil menunjuk seseorang yang ada di sampingnya
“agus”Siska tesentak kaget ketika mengenal orang itu yang ternyataAgus
Siska tak sadar menangis. Saat mengetahui orang yang menolongnya adalahAgus
“ orang yang dulu paling ku benci, selalu ku ejek kini yang menyelamatkan nyawaku, maafin aku ya tom, aku udah banyak salah sama kamu” ujar Siska sambil menahan tangisnya
“ aku juga minta maaf tadi udah bentak kamu, maaf ya” balasAgus
“tidak tom, malah aku berterima kasih, karena hal itu yang membuatku sadar bahwa seseorang tak dinilai dari hartanya tapi dari hatinya, makasih ya tom kamu udah ngajari aku hal yang sangat penting” Siska sambil tersenyum
“iya sama-sama, jadi sekarang kita teman dong”agus sambil menjulurkan tangannya
“teman”Siska sambil tertawa
“karena nakAgus telah menolong anak saya, sebagai tanda terima kasih saya, semua tunggakan kamu biar bapak yang bayar hingga kamu lulus”. Ujar ayah Siska
“Tidak usah pak, saya ikhlas menolong Siska”tolakAgus
“sudahlah nak, bapak sudah tau kalau kamu sangat memerlukannya”balas Ayah Siska
“iya tom terima aja”Siska mendukung perkataan ayahnya
“kalau begitu terima kasih banyak pak”Agus sambil tersenyum

  Hari itu, matahari terbenam begitu cepat, mengawali pertemananAgus dan Siska.
 
;