Kamis, 24 November 2011 0 komentar

MACAM-MACAM PUISI



Kecewa I
Ini kali kukecup bibirmu,
perawan lidahku kelu, lugu sambutmu,
tidak kuragu hijau lembaranmu, kasih,
tapi jika tak seindah kenanganmu dulu,
jangan kecewa,
sebab terlalu kasep aku mengenal cinta.

Jakarta, September 1998
Kecewa II
Rumah ini milikmu, milik kita walau cuma beratap cinta dan asa.
Taman ini begitu indah, meski hanya tertanam bunga cinta.
Ranjang ini pun milik kita walau cuma berlapis cinta.
Jangan kecewa jika hanya cinta yang bisa kuberikan.

Jakarta, September 1998
Kecewa III
Jangan biarkan buih laut memanjakanmu.
Jangan biarkan wangi melati merasuki mimpimu.
Jangan biarkan kilau permata hinggap di anganmu.
Jangan kecewa jika yang kita punya cuma cinta.


(Pernah dimuat di Banjarmasin Post, 12 Juli 1993)
The Dreaming in the Heart Garden
to Norchiditha Ganaden
now,
it’s time to stop counting the days
the days without edged
that more and more torture me
long time I have crossed the memory desert
in the beautifully shining of yours eyes
the beautifully smiling of yours
accompanying my step to walk along
the road of the heart garden
carving the memory with you
now,
it’s time to stop counting the days
that torture me
I have exhausted to wait for you
in full of disappointment
so overwrought
on the beautifully roses
save thorn
in the beautifully heart garden
actually only the dreaming
the thorn, my dear
how a wild to hurt my heart
so I realize that everything is only
the dreaming
because I fail to possess you
you are obviously not my possession
and the waving of your hand: say good bye
so much tear the hurt in my heart
good bye, my dear
don’t you go back in to may life forever
Yogyakarta, 5 Mei, 1993
MIMPI DI TAMAN SURGAWI
kepada Norchi
kini
sudah saatnya aku berhenti
menghitung hari tak bertepi
yang kian menyiksa diri
telah lama kujelajahi padang kenangan
dalam redup sendu cahaya matamu
senyum manismu
kecantikan wajahmu
mengiringkan langkahku menapaki taman surgawi
terukir kenangan bersamamu
kini
telah saatnya aku berhenti
menghitung hari
yang kian menyiksa diri

pada mekarnya mawar
menyimpan duri
pada indahnya taman surgawi
ternyata hanya mimpi
duri itu, kasih
begitu ganas menusuk ke ulu hati
hingga aku sadar diri
semuanya hanya mimpi
sebab tak mungkin kau kumiliki
lambaian tanganmu kasih
kian menoreh luka di hati
selamat tinggal kasih
dan jangan kau kembali
Yogyakarta, 5 Mei 1993
Penantian
kepada Norchi
kini
sudah saatnya
berhenti menghitung hari
yang tak bertepi
telah lama kutelusuri pasir pantai
kutinggalkan jejakku di sana
kucari bayangmu di batas cakrawala
di atas garis laut
kucari merdu suaramu
di antara debur ombak yang menggulung
pasir pantai, karang, dan debur ombak
saksi penantianku
kini
sudah saatnya berhenti
menghitung hari
yang tak bertepi
telah lelah aku menanti
kuputuskan: biarlah aku sendiri
karna ternyata engkau bukan untukku
kini
sudah saatnya berhenti menghitung hari
kulambaikan tanganku
sambil mendekap dada yang terluka
selamat tinggal sayang
tak kuharap kau kembali
Loksado, Juli 1993
(Dimuat di Banjarmasin Post, 12 Juli 1993)
Puisi-Puisi yang Ditulis pada Tahun 1989-1990
B e l e n g g u
kepada Widuri
getar rasa haru tiap kita bertemu
ciptakan belenggu pada diriku
namun pagar antara kita
jadi sekat tempat kita menetap
senyum dan sapaanku gagal
ketuk pintu hatimu
tatapan mata hanya sia-sia
lambaian tanganku relakan dirimu
kian menjauh menuju bahtera cinta keemasan
"selamat jalan Widuri,
semoga tak kembali lagi."
biarkan aku terus mengembara
mengakrabi tiap jengkal tanah sepi.
Yogya, Maret 1989
Kita dan sekat
kepada Widuri
di pantai ini
getar rasa haru tiap kita bertemu
ciptakan belenggu pada diriku.
Antara kita ada sekat
pisahkan tempat kita menetap.
Ah, kau memandang diriku ragu
senyum dan sapaanku
gagal ketuk pintu hatimu
tatapan mata hanya sia-sia.
lambaian tanganku
relakan dirimu kian menjauh
menuju bahtera cinta permata.
selamat jalan, Widuri
semoga engkau tak kembali
ke pantai ini,
biarlah aku tetap sendiri
menapaki tiap jengkal tanah sepi.
Yogya, Maret 1989
Kenangan
Papa…mama ingatlah
dulu, di kali bening daun bambu kujadikan perahu
malaju papa
aku bersorak mama
engkau tertawa dengar celotehku
betapa bahagia kita
Kenanglah
kali bening dan perahu daun bambu milikku
gembira dan bahagia punya kita
Papa…mama
Alangkah berat, tatkala kita terpaksa
tinggalkan semua,
tinggalkan desa menuju kota
Lambaian nyiur kelapa
sambut lambaian tangan kita
tinggalkan desa menuju Jakarta.
Yogya, 1989
POTRETMU DI PANTAI ITU
sebingkai potret dirimu
dalam aku cemburu
di pantai itu
leburkan cintaku dalam cahaya purnama
seribu wajah lelaki
tak lagi kukenali
: aku hanya kenal kamu
gambarmu di pasir pantai
tak lagi sempurna kunikmati
karna harimu terbawa angin selatan
sedang aku kian jauh menuju utara
sebingkai potret dirimu
di pantai itu
ketika aku ragu
tak kuingat lagi
lebih baik aku sendiri.
Yogya, 1990
Puisi-puisi yang ditulis pada tahun 1988
Doa Malam
gelap langit malam
berikan keheningan dan diam
dalam diam
kutengok bintang khusuk sembahyang
dalam keheningan
kupacu hasratku sujud pada-Mu
nyalakan lampu dalam jiwaku
agar aku tahu
segala keangkuhan adalah kebinasaan cinta
dan segala cinta
hanya bermuara pada-Mu
Yogya, 1988
Persimpangan
Listy
di antara keasingan kita sempat
erat berjabat
tanpa mengerti tali yang temukan kita
kita sama-sama jalan menuju
terang mentari yang masih dalam
mimpi.
Listy
jalan simpang nyata depan kita
kurelakan kau putar kemudi
sebab mentari kita berbeda
jangan menoleh lagi Listyku
biarkan aku sendiri di sini
melewati hari kian sepi.
Yogya, 1988
(Pernah dimuat di Majalah Idola, No. 45,
Tahun II, 16-31 Desember 1988)
J a r a k
Tlah kita sepakat
buat jarak Yogya-Semarang
tlah kita buat tekad
memperdekat jarak
dalam hati kita
agar rentang tali makin kuat
meski hari-hari kian sepi.
Yogya, 1988
(Pernah dimuat di Majalah Idola, No. 45,
Tahun II, 16-31 Desember 1988)
Keputusan
rentang tali kian rapuh
dijelajah waktu tak kenal ampun
jarak Yogya-Semarang kian jauh
dan tlah kau putuskan:
perpisahan itu mesti terjadi
hari-hari kian sepi.
Yogya, 1988
(Pernah dimuat di Majalah Idola, No. 45,
Tahun II, 16-31 Desember 1988)



Puisi-Puisi yang Ditulis pada Tahun 1987
PERTEMUAN I
Tuhanku
ulurkan tangan-Mu
larutkan aku dalam malam-Mu
hening, khidmat sebut nama-Mu
Tuhanku,
terangkan aku pada siang-Mu
biar aku tahu
matahari tunjukkan kuasa-Mu
Tuhanku,
temukan siang dan malam-Mu
di hatiku.
Yogya, 1987
pesan buat sahabat
saat kita di tengah masa
kita erat berjabat
berdua lewati titian semu
menuju terang mentari jauh di depan
gelak tawa dan tangis bertukar
kita siapa?
bukan saudara!
mari sobat kita berjabat
ucapkan selamat tinggal
jalan simpang sudah dekat
lambaikan tangan sebab mentari
kita berbeda.
Yogya, 1987
L U P A
buat neofiraun
Tuhan
kutolak napasmu mengalir di lautku
beringas Engkau lihat bidukku
bumi kan kurebut
bulan kan kudekap
oohh
di depan cermin
aku lupa diri
merah mukaku menunduk
gelombang badai berdebur
sudah datang waktu
leburkan bentukku
sebelum mulut terkatup
kutulis namaku di karang pantai
dengan darahku.
Yogyakarta, 1987
(pernah dimuat di Suara Indonesia,
Februari 1988)
Insaf
dijemput kuda berpelana putih
lewati jalan setapak menuju langit
pengembaraan panjang
pasti kita alami
karna itu jangan dekatkan aku lagi
pada kubangan lumpur
beningkan telagaku
tenggelamkan wajahku
sedalam rasa.
Yogya, 1987
tinggal bersama
dijemput kuda berpelana putih
lewati jalan setapak menuju langit
pengembaraan panjang
mesti kita alami
maka:
jangan paksa aku mendebat lagi
sayangku
noda apakah dosa
dosa apakah noda yang kita tebarkan
di atas ranjang
di rumah sarat cemooh tetangga
mari jadi laki bini
lahirkan bayi suci
Yogya, 1987
Isyarat Malam
istriku, malam kita sudah larut
kapan pernah kita bersujud
dalam kelam jubah malam
kita berdiam
menengok bintang khusuk sembahyang
istriku, malam kita kian larut
derit ranjang tak lagi buahkan bayi
anak kita lima, cucu enam:
mari kita dekap
karna milik kita
istriku, jangan lagi kita sembunyi
malam kita adalah tepi hari
istriku, bila kereta datang
jemput kita pulang
kita sudah sembahyang
Yogya, 1987
(Dimuat di Masa Kini, 4 Desember 1987)
MELEPAS KEIKHLASAN
bukanlah matamu, istriku
tiga anak kita di kali bening
bermain perahu daun bambu
coleteh dan tawanya
alangkah lepas
dari jauh pandang saja mereka
kali bening bukan milik kita
bukalah telingamu, istriku
di tengah masa
mereka pamit
tinggalkan halaman rumah
bukalah hatimu, istriku
ucapkan selamat jalan
ulurkan tanganmu,
mari kita dekap
hatinya
Yogya, 1987
(Pernah dimuat di Suara Indonesia Februari 1988)
Sajak Penghambur Dosa
Tuhan
mencintai-Mu adalah siksa
melihat di telaga-Mu
wajahku penuh dosa
Tuhan
membencimu adalah dosa
sebab kasih-Mu tetap kudekap
jika Kau tawarkan
sorga atau neraka
jawabku: atau!
Yogya, 1987
(Pernah dimuat di Suara Indonesia Februari 1988)
Pertemuan II
sendiri di malam hari
Engkau datang
Tersenyum panang wajahku
aku tersipu
Kau belai rambutku
aku menangis
Kau tinggalkan
aku tertidur.
meski aku selalu rindu
mengeja nama-Mu.
Yogya, 1987
(pernah dimuat di Suara Indonesia Februari 1988)
Sajak Gelandangan
Andai tak bertemu
kamu dengan karung usang
mungkin tak kutemukan
deritamu di dalamnya
Kamu dengan karung usang
serta keping gelas dan kaleng rongsokan
andai tak melihatmu
mungkin mataku tak terbuka
Di naungan jembatan tua kota ini
aku terlelap bersama mimpimu
tentang sorga di balik cakrawala
dan tersentak oleh ngigaumu
tentang neraka yang membakarmu kini
Jika tak ada kamu
tak kutemukan sedihmu
dalam diriku.
Batu, 1987
BULAN BERCUMBU AWAN
Bulan dicumbu awan
Bumi tak berkawan
Kita berada di antara keduanya
menatap bumi yang sendiri
mendekap hasrat yang mati
mengharap bulan mencari diri
melawan cumbuan awan
kepada kita dia berkawan.
Yogya, Maret 1987
Permintaan
Bapakku
ijinkan aku
mengguruimu
agar tak tertidur aku di bangku kuliah
hanya mimpi
menjadi pegawai negeri
Yogya, 1987
(Dimuat di Masa Kini, 4 Desember 1987)
P U S I N G
buat "bapakku" tercinta di jakarta
bapakku
sudah penat tubuhmu
besarkan aku
sungguh baik hatimu
engkau beri aku rupiah
buat beli selembar ijazah
di warung negeri
atau swasta
bapakku
berkat budi baikmu
sekarang aku pandai
tapi, sayang
anak dilarang menggurui bapaknya
bapakku
beri aku waktu
beli tahta dengan kepandaian
hus! :tahta tidak bisa dibeli dengan kepandaian
tahta harus dibeli dengan baju hijau"
bapakku marah
dilempari kepalaku dengan NKK dan BKK
mulutku dicekoki es-ka-es
kepalaku pusing
aku tertidur di bangku kuliah
dan bermimpi menjadi pegawai negeri.
Yogyakarta, 1987


B E R P I S A H
buat Lilis
Duniaku terpaku di jantungku
menentukan aliran darahku: kehidupanku
Duniamu terpaku di jantungmu
menentukan denyut nadimu: kehidupanmu
Aku bukanlah aku
Kamu bukanlah kamu
karena kita tak bisa bertemu
Aku adalah hamba duniaku
Kamu adalah hamba duniamu
Aku menyembah di bawah kubah
Di gereja kamu memuja
Di atas sajadah aku pasrah
Di altar kamu teteskan air mata
Yogya, Maret 1987
HIDUP TANPA JUDUL
Langkahku mundur, cela yang mengatur
budi luhur dilulur bapak
luntur: silau emas dan perak
nostalgia kesalehan hanya permainan anak-anak
alif, ba’, tsa, gelap pun terucap
tanpa meresap
ini hari jadi gelap
mentari tak kudapat. Gelap!
Langkahku mundur, dosa yang mengatur
gua perak bercampur liur:
tempat menetap yang tak tetap
tersekap
hantu hijau mengincar
jangan berisik jangan diusik
saat kita terlena dalam mimpi
pelor siap bikin bocor kepala
aku tak bisa kabur
sia-sia bangkaiku dikubur.
Yogya, ’87
Perjalanan I
Sesaat aku pergi
langkahku tertinggal di kubangan darah
badanku berlumur lumpur
aku ingin kabur
meski liang kubur siap mengubur
tanpa kembang menabur
tanpa air mata mengucur
mengerahkan tobatku; satu yang kutuju
merangkak tertatih dalam sepi
memeluk sunyi
berharap tak mati: mencari mentari hati
Yogya, '87
Perjalanan II
kucapai esok hari
lewati kelam jubah malam
sesempurna kelumpuhanku
di atas sajadah
aku menyembah!
Yogya,’87
MALAM DI RUMAH HITAM
Di rumah hitam,
malam jubahnya hitam
desah nafas nafsu di dalam malam.
Di rumah hitam,
malam, kuketuk pintumu
tak ada cahaya penerang di rumahmu
lampumu padam enam tahun yang silam
Di rumah hitam,
malam, carilah cahaya penerang
bulan dan bintang
jangan cari di langit kelam
ada di atas kubah bulan sabit dan bintang
itulah lampu, ambillah buat rumahmu
wahai malam di rumah hitam.
Yogya, ’87
P o h o n M u d a
Wahai, pohon muda, kering daunmu. Jangan
impikan mentari esok hari. Malam ini
tengoklah punggung silsilah raja
di sana pernah kau ukir jasamu
dengan sejukmu
segar udaramu kau hembuskan di sana
mata air mengalir di kakimu
namun, kau semakin terhimpit. Batu-batu
angkuh menjepit akarmu
tak ada gunakah perjuanganmu?
Esok hari mentari pagi menyambutmu mati!
Yogya, ’87
PERJALANAN

Bayang-Mu kan kucari
antara tumpukan bayang mereka
Dingin angin di bawah baringin.
Sekejap kupandang punggung-Mu,
tanpa bayangan,
tanpa cahaya,
gulita!
Kemana Engkau pergi?
Ke kuil Kau bersembunyi?
Di bukit sepi Kau semedi?
Hampa tak ada suara
Sepi,
sunyi dalam hati
yang mati.
Yogya, Februari 87

Puisi yang ditulis pada tahun 1985-1986
T O B A T
Tangan ini terlalu lapuk
buat mendekap kasih-Mu
Dada ini terlalu sempit
buat merangkum kebesaran-Mu
Dengan kaki rapuh menyangga tubuh berlumpur
melangkah tertatih
melintasi rimba perasaan sunyi
meniti jembatan naluri.
Di depan pintu-Mu
aku terkapar
Menatap nur-Mu
yang memancar dari ayat-ayat-Mu
Berderit hatiku, terkuak perlahan
Sujud dan menangis memohon ampunan-Mu.
September 1985
Jerit Pohon-pohon Tumbang
Engkau pohon-pohon tumbang
Daunmu kering
rontok berguguran
ranting-rantingmu kurus dan kering
Padahal…
kau tumbuh di atas tanah subur
penuh pupuk dan tak kurang air.
Engkau pohon-pohon muda
cinta-citamu mulia
mengubah kepengapan zaman
menghalau pencemaran udara
pencemaran karena korupsi
manipulasi
dan kebobrokan mental
Tapi, sungguh malang
akar-akarmu terhimpit batu-batu sombong
batu-batu angkuh yang mengandalkan kekuasaan
Engkau kering
mati
dan tumbang
lalu membusuk
Membusuk pun kau tidak akan jadi pupuk
engkau malah jadi sampah
yang tercampakkan
terbuang
sia-sia.
November 1985
Makna-Makna yang Retak
Kelelahan yang punya makna
Haus dan lapar yang punya jiwa
Kami mengakrabi kebesaran ciptaan-Mu, ya Tuhan
Betapa indah untuk dinikmati
Namun ada sesal yang menghimpit jiwa
Rasa kontras akan predikat yang kami sandang
Dengan mereka….
Tangan-tangan kotor perusak alam!
Perjalanan kami mengakrabi rimba sunyi
Melewati jalanan nurani
Meniti jembatan perasaan sepi
Menuju puncak gunung yang abadi
Tangan-tangan kotor itu racun
Haruskah kami menutup mata
Sekedar memurnikan yang kami lihat
Sekadar menikmati hijaunya dalam pegunungan
Tangan-tangan kotor itu
Harus kami lihat dan kami tentang
Meski dengan kebesaran jiwa yang bengkak
Meski dengan kacamata yang tak pernah bertepi.
Mei 1985
AKU DAN SEBOTOL BIR
Kunyalakan sebatang rokok….
Aku cinta padamu.
Keteguk sebotol bir,
bir yang menguap dalam maknanya sendiri
yang menyatu dengan deburan darah dan ludah
menembus dinding kesadaran diri
aku terlelap
aku lupa padamu
lupa terhadap pengkhianatanmu.
Layang-layang terbang tanpa kendali
tanpa tali
tali yang dulu diyakininya
akan mengendalikan ke batas kewajaran
Kini,
limbung, terhempas badai kemunafikan
terdampar ke pelabuhan nista
yang kontras dengan suara hatinya
seiring dengan nafsu setannya.
Berlari-berlari dan berlari
menuju alam pelampiasan diri
membelakangi segala tuntutan hidup.
Aku dan sebotol bir….
Satu rasa,
rasa pahit,
rasa getir.


Pengakuan
Tataplah mataku, kasih, tanpa gemetar . Riak gelombang
terpantul bersama luka menganga. Sudah sekian lama
mendera sukma
Sentuhlah jantungku, kasih, rasakan gejolak denyut
kegundahan; sudah lama mengoyak jiwa
Sia-sia kau katupkan bibirmu sebab telah kubaca
lembar-lembar pengakuanmu, jujur kau tuliskan: "nafsu
tak terkendali...."

Jangan takut, kasih, tatap mataku dengan berani.
Sambut tanganku, mari kita lambaikan untuk waktu
yang telah berlalu, walau luka itu tak mungkin
mengatup. Kubuka pengampunanku, ikhlas kuterima air
matamu karena, ternyata
kau masih perawan di malam pertama.

Jakarta, Sep '98
Kenangan
Jalan panjang terbentang itu bukan lamunan,
sayang. Telah kita rintis sejak dalam buaian.
Percuma kau kenang kekasihmu dulu. Kini kau cuma
milikku. Pendam kecewamu, jangan harap lagi masa
lalu membalik diri.

Hujan kala itu di Kaliurang, jadi kenanganmu.
Jangan lagi kauharap kembali, sebab ia tak mungkin
datang lagi.

Tatap mataku, sayang. Jangan lagi palingkan muka.
Jangan lagi menoleh ke belakang. Di rumah ini hanya
ada kita berdua.

Jkt, September 98
Pertarungan
Hitam lembar itu telah kusibak, dengan kelancangan.
Catatan luka menganga memiriskan hati.
Bukan aku suci jika darahku menggumpal dan tanganku mengepal.
Dan, pertarungan itu tak pernah berakhir.
Lukamu, lukaku, jadikan satu.

Jkt, Sep 98
Puisi-puisi yang ditulis pada tahun 1994
P E R P I S A H A N
buat dita indah sari

Jurang antara kita tlah terbentang
lepaskan tangan saling genggam
tak kan lagi kita bernaung satu payung
maka lambaikan tangan, sayang
biarkan aku terbuang.
Bukan kanan atau kiri
bukan pula pilihan mati atau masuk bui
tapi beda cara pandang kita pada batas cakrawala
mesti kita sadari.
Tak penting tuk disesali, kasih
cinta bukan tali satukan hati
biarkan aku pergi
perpisahan ini mesti terjadi.
Jangan lagi ditangisi, kasihku
tanggalkan kecup mesra kenangan semalam
lupakan bisikan tentang cinta asmara.
Selamat berjuang, sayangku
tetap tegak di medan palagan
gapai mataharimu
sinari lorong-lorong kumuh kota
terangi gubuk-gubuk kusam berdebu
bebaskan mereka yang dihisap angkara peradaban.
Di puncak pergolakan penghabisan
kita berjumpa memimpin massa
kibarkan bendera yang sama.

Batu, 20/8/94
SAJAK CINTA UNTUK DITA
Ketika rakyat berkubang dalam genangan air mata
kita berjumpa

Tatkala petani terusir dari tanah leluhurnya
kita bersua

Saat buruh acungkan kepalan tangan menuntut haknya
kita saling jatuh cinta
karena kita di antara penderitaan mereka
darah kita mengalir di nadinya.

Tapi kini kau begitu jauh
jauh tak terengkuh
oleh angan dan harapan
setelah aku terbuang.

Lewat kangenku pada jalanan
lewat rinduku pada pekik perlawanan
kukirim salam untukmu
meski kau tinggal bayang-bayang semu
ataukah aku yang selalu ragu
pada landasan yang selama ini jadi pijakan
cita-cita masyarakat tanpa penindasan.

Rinduku padamu, Dita
laksana bayi rindukan tetek ibunya
ketika lapar dan dahaga.

Cintaku padamu, Dita
kini terbawa angin senja
kulambaikan tangan perpisahan
sambil mendekap dada yang terluka.

Batu, 22 Agustus ’94
Puisi yang ditulis pada tahun 1993
Pengharapan
buat Novi

Setangkai anggrek ungu
kupersembahkan kepadamu, sayangku
bukan sebagai tanda cinta
maka kubiarkan ia tersia-sia
biarlah dia tercampakkan
asal bukan hatiku
yang putus harapan

Setangkai anggrek ungu
bukan tanda cinta, sayangku
karena cintaku padamu
takkan kering dan layu
oleh waktu yang berpacu

Setangkai anggrek ungu
bukan saksi bisu
pengharapanku padamu
karena pengharapanku abadi selalu
maka ijinkan aku mencintaimu.

Loksado, Juli 1993
(Pernah dimuat di Banjarmasin Post, 12 Juli 1993)

Keputusan
Cinta adalah tawa
yang berderai di antara bintang gemintang
Cinta adalah tawa
di taman aneka bunga dan kembang
Kini cinta adalah air mata
kau pergi setelah kau tusukkan
belati tepat di jantungku.



Senin, 14 November 2011 0 komentar

ARTI SEBUAH PENGORBAN MANTAN PENGEMIS


Seorang pengemis tua berjalan menelusuri trotoar sebuah kota yang sangat ramai. Pengemis  tua itu mengenakan baju yang compang-camping. Matanya yang kuyu, kulitnya yang mengerut, baunya menyengat ketika arah angin bertiup. Namun setiap hari ia tak lupa mengingat dan bersyukur kepada sang Pencipta,  saat ia disuruh memungut ceceran sisa nasi yang dibuang oleh tukang warung ataupun orang sudah makan di warung. Terkadang dicaci maki, dihina dan perlakuan kasar yang tidak manusiawi. Meskipun demikian perlakuan-perlakuan seperti itu kepada dirinya, ia tidak pernah  merasa sakit hati, benci atau dendam. Yang ia pikirkan dalam benak adalah banyaknya manusia-manusia yang diciptakan dengan sesempurnah  itu oleh sang Pencipta. Mereka hidup dalam kekayaan, kemewahan, kecantikan, kegagahan. Banyak diantaranya sudah lupa takabbur dan durhaka bahkan terkesan memanusiakan binatang dan membinatangkan manusia.
            Suatu waktu ketika dia duduk-duduk beristirahat di bawah sebuah pohon. Hatinya menjerit, memohon maaf  kepada Tuhan dan sekaligus berterima kasih karena ia diciptakan ia sebagai seorang pengemis. Seandainya aia menjadi orang yang kaya, akankah ia berperilaku seperti itu? Dan bagaimana pertanggung jawaban harta itu di depan Tuhan nanti. Ia memiliki prinsip bahwa lebih ia diperlakukan tidak senonoh dari pada ia memperlakukan orang lain yang tidak senonoh. Sore hari telah tiba ia kembali tertatih-tatih pulang ke gubuk tuanya di bawah jembatan. Di situlah ia menghabiskan sebagaian hidupnya. Dingin mencekam, berteman dengan nyamuk-nyamuk yang sopan. Alangkah nikmatnya dia bisa tidur lelap tanpa berutang di bank.
            Hujan terus-menerus mengguyur kota itu, hingga air meluap dan menggenangi tempat gubuknya tua itu. Kota itu seperti kota mati setelah dilanda banjir besar. Ia hanya duduk menonton di bibir jembatan melihat-lihat sampah-sampah yang terbawah arus. Tidak lama kemudian  secara tidak sengaja tiba-tiba dan tidak terpikirkan sebelumnya, ia melihat kilatan di langit bertuliskan LAILAHA ILLALLAH dan gemuruh membisikkan telinganya kata ”Manusia sudah lupa akan Penciptnya”
            Esok harinya ia terbangun dan melihat sekelilingnya sebagai neraka dan terkejut karena semua bangunan jungkir balik dan bergelimpangan manusia seperti sebuah sampah yang berserakan. Sang pemgemis kembali berenung tentang kehidupan ini. Ia sadar di dalam hati berkata, ” Ya Allah apakah ini merupakan hukuman atau pembalasanmu terhadap manusia-manusia yang bermandikan dengan noda-noda dosa. Jika memang demikian, Engkau ya Allah Maha Pengampun, Ampunilah hambamu yang bertingkah demikian! Itu merupakan kehilafan sebagai manusia biasa.
            Sang pengemis dengan langkah yang semboyongan menelusuri puing-puing bangunan megah dan kokoh, dengan tarikan nafas seraya berdoa kepada Tuhan agar dapat dia dapat diampuni dosa-dosanya dan sesamanya, baik yang masih hidup terlebih-lebih yang sudah mati. Dia tidak dendam, jengkel dan marah sebagai dendam perlakuan manusia kepadanya dulu. Tetapi sebaliknya sedih dan menangis meratapi nasib sesamanya. Hanya secuil inilah pengorbanan dalam bentuk perasaan yang dapat diperbuat sekaligusd bentuk pertolongan sang pengemis, karena hanya kekuatan  itu yang dimilikinya.
            Betapa terkejut sang Pengemis Tua ketika matanya sayup-sayup melihat seorang bocah kecil  yang lucu kira-kira berumur satu tahun tanpa menangis seakan bermain, bercanda dengan terik matahari di sela puing bangunan. Ia menghampiri dengan hati yang was-was. Ia seakan tak percaya kenyataan di depan matanya. Ia sangat terharu karena bocah kecil itu bisa hidup sedangkan orang dewasa yang kuat saja bayak yang tidak berdaya terbawa banjir. Betul-betul kuasa Tuhan ucapnya dalam hati. Tidak lama kemudian, ia pun mengendong anak kecil itu ke tempat yang lebih aman. Yang ia pikirkan lagi bagaimana cara menghidupi bocal kecil itu? Jangankan segelas susu, sesuap nasi saja untuk dirinya sangat sulit. Tiba-tiba bocah kecil itu menangis tanda bahwa ia sedang lapar. Maka mau tidak mau sang Pengemis itu harus berusaha agar si bocah tidak mati kelaparan.  Apa boleh buat, setelah matanya tertuju pada koran yang tersangkut di tiang listrik yang tidak terbawa banjir, timbullah pemikiran untuk memberikan makanan si anak dengan koran. Setelah koran dijadikan bubur, ia menyuapi si bocah itu. Si bocah itu pun merasa kenyang dan bermain-main kembali.
            Dua tahun telah berlalu setelah peristiwa itu, ia pun kembali tinggal di gubuk tua   yang terletak di bawah kolom jembatan, namun hal itu tidak bertahan lama karena pemerintah menggusur lagi tempatnya. Ia harus cari lagi tempat lain. Ia kerap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan ditemani oleh anak itu. Seiring dengan perkembangan waktu, anak itu kian hari akan beranjak dewasa. Anak itu telah dianggap sebagai cucunya sendiri, begitu pula dengan anak itu mengaggap sang Pengemis tua sebagai kakeknya. Kini sang pengemis harus bangkit dan berjuang melawan pahitnya kehidupan demi menghidupi anak kecil itu.
            Suatu saat awan membias menutup birunya langit. Sejenak atap bumi seperti padang salju terbalik Begitu putih dan bersih kutatap awan hingga mataku lurus membentuk vertikal. Ketika memandang ke langit lagi, tiba-tiba timbul petanyaaan dalam benakku, ” siapakah pa Tua itu sebenanrnya dan mungkinkan aku ini adalah cucunya dan siapa orang tuaku? Kuhela nafas panjang dan kugerakkan kepala kembali menengadah ke langit, semakin kulihat langit tinggi di atas maka semakin jauh aku tersesat dalam mencari asal usulku sebenarnya.
            Aku kembali berjalan perlahan. Gesekan demi gesekan kurasakan pada bebatuan. Awan kembali tersingkap, angin menggiringnya ke tepi, matahari kembali memanggang bumi dengan radiasi sinarnya. Dengan sekuat tenaga, aku mengikuti langkah kaki Pengemis Tua yang telah mengasuh dan membesarkanku seperti sekarang ini. Walaupun hidup dengan kemiskinan dan serba kekurangan tatapi ia selalu mengajariku arti kehidupan untuk selalu taat beribadah kepada Tuhan. Setelah menempuh perjalanan panjang kami tiba di suatu tempat yakni di suatu desa terpencil. Di desa itu predikat pengemis berganti menjadi Pa Tua atau Kakek. Di desa itulah Pa Tua pilih sebagai tempat hidup. Karena terlalu kelelahan ia membaringkan tubuhnya di bawah pohon sambil berguman dalam hati bahwa seandainya bukan karena masa depan anaknya tersebut maka baginya menjadi pengemis di kota cukuplah menyenagkan baginya.
            Mereka mulai mendirikan gubuk yang terbuat dari bambu dan berdinding kertas karton. Hari-hari dilalui dengan perasaan senang. Pa Tua berkebun dan dibantu oleh anak itu. Hasil kebunnya dijual di pasar. Uang dipakai untuk membeli beras dan kebutuhan hidup sehari-hari, di samping itu pula sebagian disimpang untuk biaya sekolah anak tersebut. Setelah tamat di SD, anak itu berkeinginan melanjutkan di SMP. Walaupun berat permintaan tersebut dikabulkan lagi oleh Pa Tua, karena kebutuhan sehari-hari saja sangat sulit, apalagi usia Pa Tua semakin hari semakin beranjak dan tenaga sudah berkurang. Tiga tahun terlewatkan  si anak ini bermohon lagi kepada Pa Tua agar dia dapat melanjutkan pendidikan di SMA. Dengan sangat berat dan rasa kasihan, Pa Tua mengabulkan permohonan si anak tersebut dengan catatan, ia harus berkerja lebih keras membantu Pa Tua berkebun.
            Mulai hari ini, dia akan lebih giat bekerja dan belajar. Setiap hari ia berjalan kaki ke sekolah sambil memikul ubi kayu untuk dijual di dalam perjalanan dan  untuk kantin sekolah. Hasilnya jualannyalah dipakai membayar biaya sekolah. Tidak terasa waktu terlewatkan dia sudah kelas tiga SMA. Setiap malam ia tidak bisa memejamkan matanya antara mau menyampaikan keinginannya untuk kuliah dan rasa kasihan pada Pa Tua, karena dengan sisa umurnya hanya dihabiskan untuknya. Sepantasnya orang seusia dengan dia, tinggal di rumah saja. Tetapi tidak seperti Pa Tua semangat kerjanya tinggi sekali demi anak itu.
Dengan niat tulus ia menyampaikan permintaan terakhir kepada Pa Tua bahwa setelah ia lulus nanti, ia berkeinginan melanjutkan ke bangku perkuliahan pada fakultas kedokteran. Pa Tua sangat terkejut mendengarkan keinginan itu. Anak muda seusia dengan dia yang orang tuanya dianggap berada memiliki banyak ternak sapi, banyak kebun dan pabrik penggilingan beras, mereka tidak memiliki cita-cita setinggi itu, apalagi hidup kita serba kekurangan antara bumi dan langit. Mereka hanya bermodalkan satu ternak sapi dan satu kebun ubi. Untuk sementara saya belum kabulkan permintaanmu cucuku, saya pikir-pikir dulu, ucap Pa Tua. Mulai hari itu Pa Tua berpikir keras untuk jalan terbaik anak itu. Di satu sisi tidak masuk akal kalau anak itu mau kuliah. Kuliah memerlukan biaya sangat banyak. Sisi lain adalah ia menghargai motivasi anak itu.  Pa Tua sangat mengerti, dan tidak mau melukai perasaan anak itu. Pa Tua berniat anak itu tidak tercipta seperti dirinya yang terluntah-luntah bagai manusia yang tak berharga dan sampah di mata orang.  
Dengan petunjuk Tuhan, Pa Tua berpikir bahwa langkah, jalan hidup manusia ada di tangan Tuhan,  manusia hanya berusaha. Betapa berdosanya Pa Tua jika nasib dan masa depan anak lebih baik, namun Pa Tua yang tidak memberikan kesempatan dan membantunya.  Apapun resiko akan saya pikul walaupun sampai perjauangan akhir demi perjuangan hidup. Pada suatu hari Pa Tua memanggil anak itu untuk mengabulkan permohonannya. Anak itu sangat berterima kasih, bersujud dan mencium kaki kakek tua itu. Kakek tua itu satu-satunya permatanya yang sangat disanyangi dan dikagumi. Setelah pengumuman, anak itu lulus terbaik di sekolahnya.
Mendengar si anak itu akan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, maka semua warga masyarakat yang ribut dan jengkel, sinis bahkan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas didengar. Meraka mengatakan bahwa  hari ini, kakek itu menjual kerbaunya, besok setelah cucunya kuliah, maka dirinya akan dijual pula. Pengusaha kampung mendatangi rumahnya agar si anak itu bekerja saja di sawah dan pabrik penggilingan padinya itu dan akan lebih bagus masa depannya. Namun kakek itu tidak berubah prinsip. Akibatnya orang-orang kampung tidak simpati kepada dia. Mereka katakan kalau suatu saat kakek itu kehabisan bahan makanan dan mati kelaparan, maka kami tidak akan membantu.
Suatu hari, hujan baru saja reda, si anak itu pergi ke pasar seperti kebiasaan memikul ubi kayu untuk dijual. Dalam perjalanan, ia mendapatkan mobil bagus terpeleset bannya pada jalan desa yang licin sehingga mobil itu tidak bisa bergerak. Ia dengan spontan menurunkan pikulannya dan membantu orang tersebut, hingga menjelang siang hari. Ia lupa kalau jam belanja orang di pasar sudah selesai, akibatnya pendapatan hari itu tidak ada. Tidak lama kemudian ban mobil sudah terangkat dan betapa terharunya orang punya mobil itu karena masih ada anak muda yang bersifat dan bersikap seperti itu. Tidak seperti anak-anak lainnya yang nakal, gois dan antisosial terutama di kota. Dia rela mengorbankan dirinya untuk membantu orang lain.
Orang itu memperkenalkan dirinya, ternyata ia adalah pengusaha kaya datang berkunjung ke desa itu untuk melihat kondisi lapangan dalam usaha menanam investasi. Orang kaya itu mengeluarkan uang dari sakunya dan diberikan kepada si anak muda itu, tetapi alangkah herannya karena anak muda mengembalikkan dan tidak mau mengambil. Katanya sudah sepantasanya ia membantu orang lain, apa ia miliki hanya sebuah otot. Walaupun dipaksa untuk menerima tetapi selalu ditolak sehingga orang kaya tersebut hanya dapat memberikan kartu nama bila suatu saat ke kota kiranya mencari alamat itu.
Menjelang ujian masuk perguruan tinggi fakultas kedokteran, ia pun mencoba mendaftarkan diri dengan bekal uang setelah sapi kakek dijual. Ia berangkat ke kota dengan membawa kartu nama yang diberikan oleh orang yang pernah ditolongnya. Alangkah kagetnya setelah melihat rumah megah pada alamat itu. Orang kaya itu menerimanya senang hati kalau si anak itu mau tinggal bersamanya pada saat pendaftaran. Dengan ucap terima kasih dan rasa syukur kepada Tuhan.  Alhamdulillah setelah mengumuman, ia diterima di fakultas kedokteran. Kakeknya sangat bergembira bercampur cemas, jangan-jangan nanti cucunya macet di tengah jalan apalagi kalau ia sendiri sudah tua dan namanya ajal mungkin saja tidak lama lagi dipanggil menghadap oleh Tuhan yang Maha Kuasa.
Perkuliahan berjalan satu semester. Dia harus belajar dan bekerja lebih keras lagi untuk biaya kuliah. Si anak itu sambil kuliah dia bekerja membantu orang menambal ban, malam hari memberikan bimbingan belajar di rumah anak orang kaya itu, di samping itu pula selain kiriman dari kakek di kampung juga dia juga mendapat bea siswa dari kampus.  Dengan demikian dia dapat membayar biaya kuliah dan rumah kost.  Tiga tahun dia menempuh perkuliahan, tibalah saatnya untuk menyelesiakan perkuliahan. Betapa gembiranaya karena waktu yang dinantikan akan telah tiba yakni wisuda. Dengan semangat dan rasa gembira, sayang yang meluap-luap, ia mengabari kakeknya di kampung lewat sepucuk surat yang berisi bahwa cucunda telah selesai dalam perkuliahan dan semua itu berkat perjuangan hidup kakek dalam mengasuh, membimbing, nemelihara, membesarkan  dan menghidupi saya. Jika bukan karena kakek maka saya tidak ada di dunia seperti ini. Saya mohon dengan sangat kakek berkesempatan dan tidak berkeberatan dan rasa senang dan bahagianya saya, kalau kakek saya jemput minggu depan untuk hadir dalam acara wisuda cucunda. Sebagai informasi bahwa cucunda sebagai lulus terbaik wisudawan tahun ini, insya Allah menurut dekan Fakultas Kedokoteran bahwa mahasiswa yang lulusan terbaik akan dipanggil langsung untuk bekerja di rumah sakit yang ternama di Indonesia setelah diwisuda. Sesuai dengan cita-cita cucunda, maka nasib kita akan berubah, kakek saya ambil dan saya bawah di mana saya bertugas. Kakek tidak usah bekerja lagi, saya mau kakek menikmati jerih payah kakek yang telah menyekolahkan saya.
Alangkah sedihnya anak itu, karena menjelang acara wisuda kakeknya tidak membalas suratnya bahkan tidak ada kabar sepatah kata pun tentang kondisinya. Memang selama dua bulan terkahir anak itu sibuk dengan penyelesaian studinya. Ia pun mencari kabar tetapi orang-orang ia temui tidak dapat memberikan keterangan. Sesuai janji kepada kakeknya untuk datang menjemputnya, sehingga ia berkemas-kemas pulang kampung. Jarak kota tempat kuliah dengan kampung sangat jauh. Perjalanan mobil  selama dua hari baru tiba. Itupun terkadang harus jalan kaki menelusuri lereng-lereng gunung. Desa tempat tinggalnya memang dikategorikan desa terpencil. Jadi wajar kalau informasi tentang kampungnya terbatas ketika dia kuliah.  Dengan semangat dan rasa gembira campur cemas ia hampir tiba di rumah kakeknya alias Pa Tua. Dari kejauhan rumah itu alias gubuk tua sepertinya sudah lama tidak berpenghuni. Dulunya banyak tanaman sayur-sayuran, bersih dari dedaunan, tetapi sekarang kelihatannya kebun di depan gubuk gersang dan ditumbuhi ilalang. Alangkah terkejutnya setelah melihat gubuk tua itu sudah kosong tidak berpenghuni lagi. Ia masih teringat ketika ia masih kecil bermain berkejar-kejaran, bercanda, bermain bersama Pa Tua di tempat itu. Ia melihat baju sehari-hari yang sering dikenankan Pa Tua tergantung di pintu. Alat kebun cangkul, sabit dan parang juga masih tergantung di dinding.
Lama ia duduk termenung, apakah kakeknya sudah pindah tempat? Tetapi kenapa alat-alat kebun tidak dibawa serta dan ke mana ucap dalam hatinya. Tanpa disadari tiba-tiba matanya tertuju pada gundukan  tanah di samping kebunnya dulu. Ia merasa curiga dan mendekat, ternyata di atas gundukan tanah itu tertulis nama ”Kakek Wafat, hari Kamis, 12 Agustus 2008. Entah di mana perasaannya berlabuh pada saat itu, sehingga ia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Ternyata Pa Tua wafat menjelang hari wisudanya. Setelah ia siuman kembali, ia sadarkan diri, ia mengenang kembali masa-masa bersama Pa Tua ketika ia pungut dan dijadikan sebagai cucu dan berbagai macam perjuangan hidup yang dia tempuh bersama Pa Tua. Ia berteriak keras ke langit meminta kepada Tuhan agar dipertemukan dengan kakeknya walaupun hanya sejenak saja untuk melepaskan rindu dan mengucapkan terima kasih, tetapi apa buat kakeknya sudah berada di alam lain.
Hatinya teriris-iris, gelar  dokter yang diraih akan dipersembahkan kepadanya. Ia mau membuat gembira hati kakek di hari tuanya. Ia tidak dan belum berterima kepadanya tentang jerih payah mengasuh, membesarkan dan menyekolahkannya. Pada malam itu ia bermalam di gubuk tempat ia dibesarkan, ia bersembahyang dan mendoakan keselamatan di akhirat kakeknya. Di bawah sajadah ia yang di pakai sembahyang ditemukan sepucuk surat yang ditulis semdiri oleh kakek dengan bahasa daerah yang artinya cucuku yang kakek sayangi, dengan perjuangan yang cukup panjang dan berat namun membuatku bersemangat hidup. Gembiraku adalah kehadiranmu di sisiku, jiwaku telah kuabdikan demi masa depanmu yang cerah. Hari wisudamu adalah hari terakhir kuantar engkau cucuku dalam gerbang perjuangan terakhir. Rinduku padamu untuk bertemu setiap saat adalah rinduku akan keberhasilanmu mengukir nama. Maafkan kakek, cucuku! Aku tidak bisa menantimu untuk bersama lagi dalam satu perjalanan, sebab takdir Tuhan yang memisahkan kita. Biarlah gubuk tua dan kebun kesayangan kakek akan menjadi saksi bisu tentang arti perjuangan hidup seorang peengemis menjadi kakek. Satu pesan saya jika esok engkau menjadi ”orang” janganlah menanusiakan binatang dan membinatangkan manusia sebagaimana kakek diperlakukan dahulu. Sebab kalau seperti itu maka di depan langkah kita bencana  sedang mengintai. Abadikan hidupmu untukl menolong sesaa manusia. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Kehidupan abadi adalah kehidupan yang aku jalani.
Seiring dengan perjalan waktu, dokter itu kini bekerja sebagai dokter ahli di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Suatu hari ketika ia memeriksa seorang pasien, dia melihat ada kalung yang dipakai oleh ibu yang sudah lanjut usia persis sama kalung yang bergantung di lehernya semenjak dia masih kecil. Setelah diselidiki ternyata ibu itu adalah ibu kandungnya sendiri, berpisah semenjak kecil ketika tangan ibu dengan sekuat tenaga menggendong banyinya namun lebih kuat hempasan air, sehingga banyinya terlepas dari tangan. Alangkah gembiranya dia bisa hidup bersama ibunya. Namun ia tidak lupa selalu berziarah ke makam kakeknya di kampung. Disamping itu pula dia memberikan pengobatan gratis kepada seluruh warga masyarakat termasuk warga masyarakat yang jengkel ketika ia disekolahkan oleh kakek. Mulai saat itu warga masyarakat sudah terbuka matanya tentang arti dan pentingnya pendidikan. Investasi kepada anak akan lebih baik daripada invertasi kepada sawah dan ternak.
Ceita ini adalah kisah yang terjadi pinggir danau Tempe Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatang
Jumat, 04 November 2011 0 komentar

Renungan Tentang Wanita

Seorang anak laki-laki kecil bertanya
kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?"

"Karena aku seorang wanita", kata

  sang ibu kepadanya.

  "Aku tidak mengerti", kata anak itu.

  Ibunya hanya memeluknya dan berkata, "Dan kau tak akan pernah mengerti"

  kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa
alasan?"

  "Semua wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.


  Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.

  Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?"

 Tuhan berkata:

  "Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "
 "Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu
melahirkan anak dan menerima > penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "

  "Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "

  "Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "

  "Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "

  "Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu  "

  "Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.
  ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."

  "Kau tahu:
Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."

 "Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."

  Kirimkan ini kepada setiap wanita cantik yang Anda kenal hari ini untuk memperingati Bulan Sejarah Wanita.

 Jika Anda lakukan,  sesuatu yang baik akan terjadi.

  Anda akan menambah harga diri wanita!
0 komentar

Menuju Iman yang Sempurna

Iman itu bukan hiasan bibir dan pemanis kata apalagi sekedar keyakinan hampa. Tapi sebuah keyakinan yang menghunjam dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindak nyata. Pengakuan seorang mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti amal shaleh, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan tidak berdasar. Di sini Allah swt. menjelaskan kepada kita tentang senyawa keimanan dan amal shaleh dalam surat Al-‘Ashr;
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati agar mentaati kebenaran dan nasehat menasehati agar tetap sabar.” QS 103:1-3



Ayat-ayat quraniah tentang hal ini banyak sekali, bahkan setiap “khitab ilahi” (panggilan Allah) yang ditujukan kepada mukminin selalu disertai dengan perintah untuk mengerjakan amal saleh yang berkaitan dengan ibadah dan larangan untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah swt.

Iman yang menshibghah -mewarnai- akal, hati dan jasad seorang mukmin niscaya ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan maka pilihannya itu sudah pasti jatuh pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ia senantiasa memutuskan sesuatu dengan haq dan menghindari hal-hal yang menjurus kepada kebatilan. Jadi seorang yang telah tershibghah imannya, ia akan menjadi cahaya bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Allah berfirman;


“Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian ia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya?…” QS 6:122


Demikianlah Allah menghidupkan manusia dengan cahaya Islam dan keilmuan. Sehingga hal itu memberikan manfaat dan kontribusi riel tidak saja bagi lingkungannya bahkan sampai pada peradaban dunia.


Rasulullah saw. menganalogikan seorang mukmin yang benar-benar memahami keislaman dan keimanannya seperti lebah. Lebah itu mempunyai sifat tidak pernah melakukan kerusakan, lihatlah ketika hinggap di dahan-dahan pepohonan atau tangkai-tangkai bunga. Lebah selalu mengkonsumsi makanan yang terbaik yaitu sari bunga. Dan menghasilkan sesuatu yang paling bermanfaat yaitu madu. Maka makhluk hidup yang berada di sekitarnya merasa aman dan nyaman.


Begitulah seharusnya muslim dan mukmin, dia harus mampu menebar pesona Islam. Melukiskan tinta emas kebaikan dalam kanvas kehidupan secara individu dalam semangat kebersamaan. Semangat kebersamaan inilah yang seharusnya dimiliki setiap mukmin. Kepekaan terhadap apa saja yang sedang menimpa masyarakat harus menjadi bagian kehidupannya. Jangan berpuas diri dengan urusannya sendiri tanpa memperhatikan dan mempedulikan masyarakat sekitarnya.


Interaksi Sosial


Lezatnya iman apabila sudah mampu dirasakan oleh seorang mukmin dalam ruang kepribadiannya, maka akan menjelma menjadi pesona sosial yang sangat menawan. Khusyuk diri yang dimiliki seorang mukmin akan berdampak pada ‘atha ijtima’i (kontribusi sosial) dan keharmonisan social. Di sini, Nabi kita Muhammad saw. mengajarkan kepada kita dengan tiga kalimat yang sarat dengan nilai-nilai perbaikan diri. Di saat beliau bersabda; “Takwalah kamu di manapun kamu berada, ikuti keburukan itu dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya dan berinteraksilah pada manusia dengan akhlak yang hasan.”


Dan salah satu bentuk interaksi kita pada lingkungan sekitar kita adalah adanya hasaasiahbi’ah (lingkungan), baik yang berkaitan dengan lingkungan dakwah, lingkungan sosial, lingkungan pengajaran yang terjadi dalam tataran keluarga maupun masyarakat adalah cerminan kuat dari keimanan kita yang telah tershibghah dengan nilai-nilai kebenaran Islam. Bagaimana Rasulullah saw. melakukan hal ini dalam keluarga dan masyarakatnya. Beliau dengan gigih telah mempengaruhi pamannya, Abu Thalib untuk memeluk Islam sehingga detik-detik akhir hidup sang paman. Ia telah menyeru bani-bani Quraisy pada waktu itu seraya berkata di atas bukit shofa: “Wahai Bani Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai Bani ka’ab, selamatkanlah dirimu dari apai neraka….., wahai Fathimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka..”

Imam Muslim.
Begitu juga, beliau telah terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada masyarakatnya sebelum nubuwwah -masa Kenabian- seperti berperan aktif dalam perang fijar; peperangan yang terjadi antara Quraisy bersama Kinanah dengan Ais Qailan, Hilful Fudlul; kesepakatan untuk melindungi orang-orang yang terdhalimi dan pembangunan Ka’bah.

Sensitifitas Tinggi


Oleh karenanya seorang mukmin apalagi kader dakwah harus terlibat aktif dalam amal-amal kebaikan yang terjadi di lingkungan keluarga maupun masyarakatnya. Baik yang bersentuhan dengan daur da’awi (peran dakwah keluarga), daur ta’limi (peran pengajaran) dan daur tarbawi (peran pembinaan). Janganlah seorang kader yang sibuk dengan perbaikan dirinya, akan tetapi mengabaikan dakwah keluarganya. Semangat berbisnis, lalu lupa mengajar dan membina anak-anaknya. Puas dengan kehebatannya, asyik dengan pesona dirinya, akan tetapi terlena dengan apa yang sedang terjadi di lingkungan keluarga. Bapak asyik dengan dakwah di luar, sementara anak nyimeng dan ngeganja. Coba kita perhatikan dan merenungkan kembali kembali firman Allah berikut ini;


“Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” 64:14-15


“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” 63:9


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada


mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” 66:6


Kepedulian Sosial


Interaksi sosial kita yang berujung pada kepedulian sosial, mengharuskan kita untuk terlibat penuh dengan suatu yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Hal ini bukan hanya dilakukan seorang mukmin atau bahkan kader dakwah di saat membutuhkan mereka dan ketika ada kepentingan. Akan tetapi kapanpun dan kondisi apapun seorang mukmin harus menebar pesona Islam. Ia bekerja dan berkarya sesuai arahan Rabbani. Seluruh waktu dan hidupnya agar bermanfat bagi manusia lain. Ia ingin menjadi salah satu dari kategori qaumun ‘amaliyyun -kaum yang aktif bekerja- dan mendambakan identitas mukminiin haqqan -mukmin sejati-.


Oleh karenanya, seorang mukmin harus bisa berperan aktif dalam seluruh dimensi sosial. Baik dimensi da’awi yang mengharuskan dia sebagai cahaya di tengah masyarakatnya, yang mengharuskan dia membawa obor tanggungjawab amar ma’ruf nahi munkar dan sebagai agen of changes. Dimensi ukhawi; yang mengharuskan dirinya mengkristalkan kembali makna ta’aruf, tafaahum dan takaaful dalam kanvas ukhuwah Islamiah. Benar-benar menjadi kontributor dalam segala hal, apalagi yang bersentuhan langsung dengan fuqara, masakin dan al-aitam (yatim piatu). Rasulullah bersabda: “Ya Abu dzar, apabila kamu membikin sayur, perbanyak kuahnya dan perhatikan tetanggamu.” Imam Muslim


“Tidaklah beriman seorang di antara kamu, hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.” Muttafaqun Alaih


“Saya dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini (beliau mengisyaratkan dengan kedekatan jari telunjuk dan tengah) Imam Al-Bukhari


Dan dimensi ta’limi wa tarbawi -pengajaran dan pengkaderan-; yang mengharuskannya berperan aktif dalam melakukan pengajaran dan pembinaan masyarakatnya. Sehingga masyarakat setempat menikmati pencerahan jiwa dan pemikiran. Mereka semakin dekat dengan nilai-nilai Islam dan akhirnya semangat mengimplementasikannya dalam ruang kepribadiannya dan lingkungan keluarganya. Allah berfirman:


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” 3:104


“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” 62:2


Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan peduli sosial, dilandasi iman yang hidup dan produktif dalam diri kita. Allahu a’lam
0 komentar

Yunita

Seorang gadis cilik yang bernama yunita tumbuh di keluarga yang terpandang dan sederhana. Hari-hari dilewati begitu indah segala keinginannya di penuhui oleh orang tuanya. Sekolahya berjalan dengan lancar. Masa kecilnya begitu bahagia, dia duduk di bangku TK atau yang lebih kerennya Playgrup selama 3 tahun. Semasa kecilnya disaat duduk dibangku TK Yunita selalu memdapatkan berbagai macam piagam penghargaan, mulai dari juara 1 lomba lari karung Pi, juara 1 lomba lari estavet Pi, juara 1 menari, juara 1 menyanyi solo, juara 1 menghafal surah-surah pendek, juara 1 lomba lari kelereng Pi dan juara 1 lomba melukis dan mewarnai. Selama 3 tahun Yunita selalu meraih semuanya. Yunita sangat di senangi oleh teman-temanya dan guru-gurunya.
Hari-hari Yunita begitu indah, dia selalu mendapatkan hadiah dari Ayahnya ketika pulang dari luar kota. Ayahnya sering membawakanya pakainan yang berwarba pink, atau pakain-pakain yang bergambar kartun favorit Yunita. Kehidupan yang begitu indah, dalam 1 Rumah tinggal bersama Kakek, Ayah, Ibu dan pembantunya. Yunita setiap harinya selalu meminta uang kepada Kakenya sebelum berangkat sekolah dan disaat Kakenya menghitung uangnya setiap malam, dia selalu curang saat membantu Kakenya menghitung uang. Saat Yunita membantu menghitung uang Yunita selalu curang saat Kakeknya sedang sibuk dan serius menghitung uang hasil jualanya, Yunita juga sibuk memasukkan uang ke kantong celanya dan terkadang menyelipkan uang tersebut di cela-cela papan, kemudian berpura-pura mau buang air kecil padahal sesungguhnya mengambil uang yang ad di celah-celah papan itu. Kemudian dating kembali dan berpura-pura melanjutkan pekerjaanya, setelah pekerjaannya selesai Yunita meminta upah pada Kakeknya, “Kakek uang tabungku untuk hari ini mana?”  kakekya pun memberikanya uang seperti biasanya Rp 50.000. Yunita terkadang mendapatkan 10.000 – 20.000 dari hasil kejahiliannya.  Betul-betul Yunita sangat jahil. Setiap malamnya Yunita menabung semua uang yang di dapatkan, Yunita sangat rajin menabung dan membantu Kakeknya jualan di pasar saat hari libur. Uang tabungan itu, Yunita ingin sekali membali baju lebaran. Yunita tidak pernah mengharapakan pakain lebaran dari orang tuanya atau keluarnya yang lain. Kelakuan Yunita sebenarnya sudah lama diketahui Kakeknya dan orang tuanya, tapi tak mau menegurnya, karena kakek dan orang tuanya ingin melihat Yunita sampe kapan dia akan bersifat demikian dan kapankah Yunita akan Jujur?. Yunita sangat semangat menabung karena cita-citanya, Yunita ingin menjadi seorang dokter karena melihat keadaan kakeknya yang selalu sakit-sakitan. Yunita berharap agar dapat bersekolah dengan uangnya sendiri dan dapat menyembuhkan penyakit Kakenya. Yunita sangat menyayangi kakeknya, tidurpun Yunita bersama kakeknya, tapi disaat Yunita tidur lelap Yunita pun digendong oleh Ayahnya ke kamarnya. Setelah bangun pagi Yunita selalu menangis karena dia tak melihat Kakenya disampingnya. Akhirnya Yunita dibuatkan kamar oleh Ayahnya disamping kamar Kakeknya.  Yunita senang tidur dengan kakeknya karena, kakeknya selalu menceritakan pengalaman hidupny pada masa kecil dulu.
Setiapp pagi sebelum berangkat kesekolah dan bekerja sudah menjadi tradisi di keluarga Yunita untuk sarapan. Saat sarapan, makan siang, dan makan malam semua anggota kelurga harus ada di meja makan untuk bersama-sama menyantap makan yang sudaj ada. Karena selalu ingin melewatakan hari-harinya bersama keluarga.
Hari-hari berlalu sepeti biasanya. Yunita sedang membantu kakenya menghitung uang, kemudian Yunita langsung memeluk Kakeknya dan menagis di pangkuan Kakeknya, Kakeknya mulanya terkejut melihat Yunita yang selalu ceria tiba-tiba mengais. Kakeknya berkata “kenapa kamu menagis cucuku, siapa yang telah menyakitimu dan membuatmu menangis, atau tubuhmu ada yang sakit biar kakek yang obati ” Yunita “tak ada apa-apa kakek, aku hanya mau jujur kakek bahwa selama ini aku selali nakal saat membantu kakek menghituny uang, ake salau menyelipkan uang dikantongku atau di celah-celah papan dan kemudian aku berpura-pura buang air kecil, sesungguhnya mengambil dan mengamankan uang yang tadi aku sipan kemudian aku simpan dalam celenganku kek, setelah menghitung aku minta uang tabungan lagi sama kakek, aku nakal kakek, maafkan aku yah kakek. Aku berjanji akan bersukap jujur dan membahagian ayah ibu dan kakek”. Kakek “kakek maafkan, rajin belajaryah, lain kali jangan begitu lagi, ini uang untukmu (kakek membari uang Yunita Rp 100.000)”. trimkasih kakek, Yunita sayang kakek.

 
;